Hujan deras mengguyur Banda Aceh siang itu, Selasa 25 November, persis menyambut kedatangan Sudirman Said. Agenda utamanya adalah menghadiri Musyawarah Provinsi Palang Merah Indonesia di Takengon, Aceh Tengah. Sebagai Ketua Bidang Organisasi PMI, ia membuka acara itu malam harinya. Namun begitu acara selesai, Sudirman langsung bergegas kembali ke Banda Aceh. Penerbangan pagi ke Jakarta menunggu esok harinya.
Rencana itu ternyata terlalu optimis.
Hujan lebat yang tak henti sejak Senin telah mengubah segalanya. Perjalanan pulang dari Takengon menuju Bireun, yang biasanya cuma tiga jam, membengkak jadi sembilan jam malam itu. "Kami berhenti terus," jelas Sudirman kemudian. "Ada pohon tumbang, genangan air, lumpur, dan guguran dari bukit. Bahkan di satu titik, jalanan sebelah kanannya sudah runtuh. Kami harus bereskan dulu pohon-pohon yang tumbang itu baru bisa lewat."
Mereka tiba di Bireun pukul tujuh pagi, Rabu. Tapi kota itu sudah lumpuh diterjang banjir bandang. Sudirman pun terjebak di sana selama dua malam. Ia sempat mendatangi tempat-tempat pengungsian, puskesmas, hingga kantor polisi dan koramil. Kesaksian yang didengarnya seragam: sistem lumpuh total. "Listrik mati berhari-hari, jaringan telekomunikasi ikut padam. Backup system di BTS pun ternyata tidak berfungsi," ucapnya.
Setelah dua malam, Kamis pagi ia mencoba menerobos ke Banda Aceh. Perjalanan yang seharusnya empat jam itu berubah jadi petualangan mencekam selama delapan belas jam. Ia menyaksikan arus deras menghanyutkan sepeda motor di depannya. Mobil yang ditumpanginya nyaris bernasib sama setelah nekat menerobos banjir, akhirnya mogok. Sudirman dan tujuh orang lainnya terpaksa pindah ke mobil lain. Barulah Jumat pagi ia bisa terbang pulang ke Jakarta.
Bencana serupa tak hanya terjadi di Aceh. Ratusan kilometer di selatan, di Desa Anggoli, Tapanuli Tengah, keluarga Waldi Azmi juga dilanda kecemasan. Hujan seminggu penuh memicu banjir bandang yang jauh lebih ganas dari perkiraan. Waldi, yang sedang di Sumbar, buru-buru meminta orang tuanya mengungsi.
"Enggak pernah menyangka bakal separah ini," katanya, Minggu 7 Desember. "Ini jauh berkali-kali lipat lebih parah dari banjir sebelumnya."
Rumahnya tertutup lumpur. Sementara di desa tetangga, Garoga, rumah-rumah warga di pinggir sungai hampir rata dengan tanah.
Peringatan yang Sudah Ada
Bencana besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar ini bukan datang tiba-tiba. Prakirawan BMKG Hasmororini Sulistami menyebut, tanda-tanda cuaca buruk sudah terpantau sejak 21 November. Saat itu, Bibit Siklon Tropis 95B terlihat menguat di Selat Malaka.
BMKG pun menyebarkan informasi peringatan dini. Mereka membanjiri media sosial dan grup-grup WhatsApp pemda serta BNPB. "Tujuannya supaya informasinya cepat diterima dan daerah bisa cepat bertindak," kata Hasmororini.
p>Beberapa hari kemudian, bibit siklon itu berubah menjadi Siklon Tropis Senyar, dipicu suhu laut yang menghangat. Peringatan resmi pun dikeluarkan.Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengaku peringatan itu jadi acuan. Sepekan sebelum bencana, Pemprov Sumut bahkan sudah mengundang para kepala BPBD se-Sumut untuk rapat antisipasi. "Dibahas potensi cuaca ekstrem dan longsor," katanya.
Bahkan lebih awal lagi, akhir September, rapat koordinasi serupa sudah digelar di Langkat. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat itu mengingatkan pentingnya kearifan lokal.
"Jika air sungai mendadak keruh, membawa kayu atau kerikil, itu tanda banjir bandang sudah terjadi di hulu. Masyarakat harus segera menjauh dari sungai," pesan Dwikorita.
Peringatan yang sama juga diterima Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu. Ia lantas mengumpulkan camat, kades, dan BPBD untuk mitigasi pada Senin 24 November. "Kami ingatkan semua OPD untuk bersiap," ujarnya.
Upaya itu rupanya berbuah hasil. "Di Desa Tolang, 50 rumah tergusur, tapi alhamdulillah tidak ada korban jiwa karena kadesnya sudah mengungsikan warga lebih dulu," kata Gus Irawan.
Sayangnya, mitigasi dini seperti itu tidak terjadi merata di semua daerah. Akibatnya, korban jiwa di tiga provinsi nyaris menyentuh angka seribu.
Eko Teguh Paripurno, pengamat manajemen bencana, menegaskan bahwa peringatan BMKG seharusnya memicu status siaga darurat dan rencana kontingensi yang matang di tiap daerah. "Bukan cuma rencana evakuasi, tapi juga penyiapan logistik, tempat aman, dan lain-lain," tegasnya.
Respon dan Realita di Lapangan
Siklon Senyar memang memicu hujan ekstrem. Curah hujan di tiga provinsi itu melonjak tiga hingga empat kali lipat dari kondisi normal dalam beberapa hari kritis. Dampaknya luar biasa melumpuhkan.
Di saat-saat genting awal bencana, bantuan pusat tak langsung terasa. Sudirman Said bercerita, dalam perjalanan panjangnya, ia tak melihat personel BNPB, Basarnas, atau petugas vital lainnya. "Masyarakat seperti berjalan sendiri," ujarnya. Ia menduga para petugas di daerah juga sedang menyelamatkan diri dan keluarganya, ditambah komunikasi yang terputus total.
p>Namun, kesan itu dibantah oleh Bupati Tapteng, Masinton. Ia menyebut saat banjir bandang pertama menerjang tanggal 25 November, BPBD bersama TNI-Polri langsung turun mengevakuasi warga. Hari itu juga ia melapor ke sejumlah pejabat tinggi di Jakarta. Tim BNPB tiba di wilayahnya pada 27 November. "Dalam durasi tiga hari, menurut saya sudah cepat," katanya.Bupati Tapsel, Gus Irawan, punya cerita lain. Situasi yang sangat mencekam membuatnya tak sempat melapor. Justru Mensesneg dan Seskab yang menghubunginya keesokan harinya untuk menanyakan kondisi. "Saya baru tersentak untuk melapor ke gubernur dan kepala BNPB," akunya. Bantuan pun datang, meski evakuasi awal lebih banyak dibantu TNI-Polri setempat.
Pemerintah pusat memang bergerak. Rapat terbatas di Istana digelar, menteri koordinator turun ke lokasi, dan Presiden akhirnya berkunjung pada 1 Desember. Tapi, ada jeda antara laporan pertama tanggal 25-26 November dengan gelontoran bantuan besar-besaran. Alat berat dan personel dalam jumlah masif tidak serta-merta muncul di hari-hari pertama yang kritis.
Eko Teguh Paripurno mencoba menjelaskan jeda ini. "Kita sering salah paham. Jadi isu nasional bukan berarti sumber daya langsung 'abrakadabra' ada di lokasi. Semua sumber daya itu ada di daerah masing-masing," paparnya. Menurutnya, masalah utamanya adalah ketiadaan data kerentanan yang akurat sebelum bencana, sehingga kesiapsiagaan pun minim.
BNPB, melalui Abdul Muhari, enggan berkomentar soal tudingan keterlambatan. "Yang penting kondisi sekarang terus membaik," katanya, Minggu 7 Desember. Ia menyebut akses jalan sudah pulih 60%, komunikasi 90%, dan distribusi logistik sudah lancar.
TNI mengklaim telah mengerahkan 33 ribu personel, ditambah puluhan pesawat dan helikopter. Polri juga mengirim ratusan personel Brimob dan tenaga kesehatan.
Deteksi Dini yang Terhambat
Ketika bencana mulai menerjang, salah satu korban pertama adalah akses komunikasi. Seperti di Tapanuli Tengah, jaringan putus total sekitar tengah hari tanggal 25 November. "Sulit sekali berkomunikasi," kata Masinton. Ia sendiri mengaku tidak menduga bencana akan separah itu.
Ia sempat melaporkan via Instagram tentang banjir dan longsor yang menelan empat korban jiwa. Tapi skala sebenarnya jauh lebih besar. Listrik di seluruh kabupatennya padam sejak subuh.
Lantas, apakah pemadaman listrik skala luas bisa jadi indikator bencana besar? Manager Komunikasi PLN UID Sumut, Surya Sitepu, menyatakan tidak serta merta. Jaringan listrik bisa trip karena banyak hal, dari ular sampai tupai. "Harus ditelusuri dulu," ujarnya. Meski begitu, informasi gangguan selalu dilaporkan ke pemda dan pusat.
Seorang sumber menyebut, pemda seharusnya tak hanya bergantung pada data listrik. Mereka perlu merangkai data dari berbagai lembaga untuk menilai skala kegentingan. Sebab, listrik bisa padam satu kota tanpa ada bencana besar, seperti yang pernah terjadi di Jakarta. Titik krusialnya adalah bagaimana membaca semua sinyal itu dengan cepat dan tepat, sebelum segalanya terlambat.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu