Remaja 16 Tahun dari Kedah Garap Software Militer dan Satelit

- Senin, 08 Desember 2025 | 10:20 WIB
Remaja 16 Tahun dari Kedah Garap Software Militer dan Satelit

Remaja 16 Tahun Ini Sudah Bikin Software untuk Angkatan Darat & Satelit. Benar-Benar 'Di Level Lain'!

Oleh: Mazlan Syafie

Minggu ini, kita diajak melihat soal bakat. Dan bakat itu, kadang muncul dari tempat yang tak terduga.

Ambil contoh dari Kedah. Di sana, ada seorang remaja berusia 16 tahun yang karyanya bikin orang melongo. Namanya Muhammad Khawarizmi Muhamad Kamalrul Zaman.

Mungkin kamu ingat, sekitar 2019 lalu, dia sempat viral. Saat itu usianya baru sepuluh tahun, tapi sudah berhasil merakit roket berbahan bakar padat sendiri. Keren, kan?

Tapi itu dulu. Sekarang, levelnya sudah jauh melesat. Nggak main-main lagi.

Sementara kebanyakan anak seumurannya sibuk main game atau scroll media sosial, Khawarizmi malah asyik menulis kode pemrograman. Dan bukan untuk aplikasi biasa, lho. Kodenya dipakai untuk proyek-proyek pertahanan nasional.

Ya, kamu baca itu benar. Dia terlibat dalam pengembangan perangkat lunak yang berkaitan dengan militer. Ini dilakukan lewat kolaborasi dengan sebuah perusahaan lokal yang bergerak di bidang teknologi keamanan. Posisinya? Pengembang Embedded dan XR.

Belum cukup sampai di situ. Remaja ini juga menjalin kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi satelit. Di sana, dia memegang peran sebagai Pemrogram Embedded. Sebuah jabatan yang biasanya diisi oleh insinyur berpengalaman, bukan anak SMA.

Yang bikin salut, Khawarizmi punya komitmen kuat buat jalan yang dia pilih. Dulu, dia pernah dapat tawaran masuk MRSM, sekolah berasrama unggulan yang jadi incaran banyak orang tua.

Tapi dia tolak.

Alasannya sederhana tapi matang: kalau tinggal di asrama, waktu buat coding dan eksperimen di komputernya bakal sangat terbatas. Dia butuh kebebasan itu untuk mengasah skill. Jadi, dia korbankan tawaran sekolah favorit demi fokus pada passion-nya.

Dan pilihannya itu ternyata membuahkan hasil yang nyata.

Lihat saja prestasinya sekarang. Dia memenangi beberapa kompetisi bergengsi, termasuk Kompetisi Nasional MYRC 2024. Bahkan, dia dinobatkan sebagai Ikon STEM Kids Malaysia Techlympics oleh Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI). Masih ada sederet penghargaan lain yang dia raih.

Perjalanannya tentu nggak lepas dari dukungan ekosistem yang tepat. MOSTI, misalnya, punya peran besar dengan memberi perhatian serius pada bakat muda seperti Khawarizmi. Sektor swasta juga patut diacungi jempol. Mereka berani memberi kepercayaan pada seorang remaja untuk menggarap proyek-proyek yang kompleks dan berdampak tinggi.

Sinergi seperti inilah yang kita butuhkan.

Di balik itu semua, sang ayah, Tuan Kamarul Zaman, selalu jadi penyokong utama. Prinsipnya jelas: "Asalkan logis, pasti bisa."

Namun begitu, harapannya harus lebih besar lagi. Saya berharap kesuksesan Khawarizmi bisa jadi pintu pembuka. Lebih banyak perusahaan swasta dan instansi pemerintah harus membuka peluang seluas-luasnya untuk anak-anak muda berbakat.

Percayai mereka. Jangan lihat usianya yang masih belia, tapi lihatlah karya dan kapasitas berpikir mereka.

Jangan sampai kita malah sibuk cari jalan pintas, mengandalkan AI impor untuk memajukan negara, sementara di depan mata ada generasi muda yang sedang bekerja keras membangun teknologi asli. Khawarizmi membangun perangkat lunak pelatihan militer. Dia nggak cuma menekan tombol 'generate'.

Ini momen terbaik untuk mengasah potensi mereka. Jangan tunggu sampai perusahaan raksasa seperti Lockheed Martin atau NASA yang merekrut mereka baru kita heboh. Nanti kita malah bertanya, "Lho, kenapa nggak bantu negara sendiri?"

Jangan sampai nasi sudah jadi bubur.

Untuk MOSTI dan perusahaan-perusahaan yang sudah memulai langkah positif ini, terima kasih. Untuk Khawarizmi dan Ayahanda Kamarul, teruslah berkarya. Kalian adalah inspirasi nyata bagi masa depan teknologi Malaysia.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar