Jejak Digital PSI: Dari Nyinyir hingga Sok Bijak di Kancah Kekuasaan

- Kamis, 04 Desember 2025 | 06:00 WIB
Jejak Digital PSI: Dari Nyinyir hingga Sok Bijak di Kancah Kekuasaan

Mau bongkar omongan kader PSI? Gampang. Cukup buka arsip medsos mereka. Jejak digital itu nggak bohong, dan yang muncul seringkali wajah-wajah munafik dengan muka sebadak-badaknya.

Baru-baru ini, misalnya, kader PSI Dedek Prayudi atau yang akrab disapa Uki angkat bicara soal banjir bandang di Sumatera. Korban jiwa sudah lebih dari 800 orang. Dalam cuitannya, dia berpesan agar bencana jadi momentum solidaritas. “Stop eksploitasi bencana untuk pecah belah,” tulisnya.

Kedengarannya bijak, ya? Tapi tunggu dulu.

Kalau kita mundur beberapa tahun, persisnya saat Anies Baswedan memimpin Jakarta, ceritanya lain sama sekali. Waktu ibu kota kebanjiran, kader-kader partai itu justru sibuk nyinyir. Narasi mereka provokatif, terasa sekali ingin memecah belah. Bukan sehari dua hari, tapi berhari-hari.

Sekarang, setelah PSI masuk dalam lingkaran kekuasaan, tiba-tiba gaya bicaranya berubah 180 derajat. Sok bijak, sok menyatukan. Perubahan sikap yang mencolok ini bikin banyak orang geleng-geleng.

Yang lebih memuakkan, kelakuan mereka ini seperti tak punya rasa malu. Ingat saja bagaimana dulu mereka menghujat Prabowo Subianto habis-habisan. Bukan main-main, partai ini bahkan menganugerahi Prabowo ‘penghargaan’ kebohongan.

Tapi lihat sekarang. Begitu ada peluang untuk mendapat kursi kekuasaan, semua hinaan itu seolah menguap. Mereka berbalik mendekat, bahkan dianggap banyak kalangan sebagai bentuk ‘kejilatan’ politik yang telanjang.

Jadi, kata-kata mutiara hari ini? Jangan mudah percaya sebelum cek dulu rekam jejaknya. Sejarah digital mereka seringkali lebih jujur daripada retorika yang diumbar sekarang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler