Bobibos Dicurigai? Ini Analisis Alur jo Patuik Masyarakat Minang

- Senin, 17 November 2025 | 06:20 WIB
Bobibos Dicurigai? Ini Analisis Alur jo Patuik Masyarakat Minang
Bobibos dan Kritik Prinsip Alur jo Patuik Masyarakat Minang

Mengenal Prinsip Alur jo Patuik: Mengapa Bobibos Dicurigai Masyarakat Minang?

Proyek Bobibos kembali mencuat dengan berbagai klaim yang menimbulkan tanda tanya besar. Berbagai pernyataan yang dikeluarkan mulai dari yang terinspirasi kitab suci, kerja sama dengan pihak yang tidak lazim, hingga klaim teknologi baterai yang mampu mengisi ulang sendiri, memicu reaksi skeptis dari berbagai kalangan.

Filosofi Alur jo Patuik dalam Menyikapi Klaim Bobibos

Masyarakat Minang memiliki prinsip kearifan lokal yang dikenal sebagai "alur jo patuik". Prinsip ini menekankan bahwa segala sesuatu harus masuk dalam alur logika dan sesuai dengan kepatutan atau kepantasan. Ketika sebuah klaim terlihat terlalu muluk, tidak masuk akal, atau bertentangan dengan hukum alam yang diketahui, secara otomatis akan timbul kecurigaan.

Prinsip ini menjadi benteng bagi masyarakat Minang untuk tidak mudah tertarik oleh janji-janji manis atau mimpi yang sulit diwujudkan. Segala hal harus dapat dijelaskan dengan logika yang jelas dan masuk akal.

Bobibos dan Bayang-Bayang Proyek Esemka

Banyak pengamat yang mulai membandingkan perkembangan Bobibos dengan proyek Esemka yang sebelumnya juga mencuat. Kekhawatiran muncul bahwa Bobibos akan mengulangi sejarah yang sama, menjadi proyek ambisius yang akhirnya tidak membuahkan hasil nyata sesuai dengan janji-janjinya.

Pentingnya Skeptisisme yang Sehat dalam Menyikapi Inovasi

Sikap kritis yang diajarkan dalam prinsip alur jo patuik sebenarnya merupakan bentuk skeptisisme yang sehat. Dalam menyikapi berbagai klaim inovasi teknologi, terutama yang belum terbukti secara ilmiah, pendekatan kritis justru diperlukan untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.

Masyarakat diajak untuk tidak serta merta menerima berbagai klaim luar biasa tanpa adanya bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan transparan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar