Dokumen Epstein Dibuka, Nama-nama Besar Dunia Terseret Kembali

- Minggu, 01 Februari 2026 | 14:25 WIB
Dokumen Epstein Dibuka, Nama-nama Besar Dunia Terseret Kembali

Nama-nama besar dunia teknologi, bisnis, hingga politik kembali terseret ke dalam pusaran skandal lama. Pemicunya, Departemen Kehakiman Amerika Serikat baru saja merilis jutaan dokumen dari penyelidikan mendiang Jeffrey Epstein. Berkas-berkas itu membeberkan segalanya: korespondensi pribadi, catatan perjalanan, hingga email yang mengungkap relasi si terpidana kejahatan seks dengan para tokoh berpengaruh.

Meski tak satu pun dari mereka yang didakwa secara pidana terkait Epstein, dokumen ini jelas menimbulkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin sebagian dari mereka masih menjalin hubungan sosial atau profesional dengan Epstein, bahkan setelah pria itu diketahui sebagai predator seksual terdaftar?

Epstein sendiri tewas bunuh diri di sel penjaranya di Manhattan pada 2019. Saat itu, ia tengah menunggu persidangan untuk kasus perdagangan seks anak di bawah umur. Kematiannya menghentikan proses hukum, tapi tidak mengubur misteri jaringan pertemanannya yang luas.

Menurut laporan Associated Press awal Februari 2026, berikut beberapa nama yang paling sering muncul dan mencolok dalam tumpukan dokumen tersebut.

Mantan Pangeran Andrew

Nama adik Raja Charles III ini disebut ratusan kali. Keterkaitannya dengan Epstein memang sudah lama jadi bahan perbincangan publik, terutama setelah Virginia Roberts Giuffre menuduh dirinya dipaksa berhubungan seksual dengan Andrew saat masih di bawah umur. Andrew membantah keras semua tuduhan itu.

Namun begitu, Raja Charles akhirnya mencabut seluruh gelar kerajaan Andrew setahun lalu. Dokumen yang baru dirilis ini semakin memperkuat gambaran kedekatan mereka. Ada undangan makan malam Epstein ke Istana Buckingham, tawaran untuk memperkenalkan Andrew dengan perempuan Rusia, hingga foto yang diduga memperlihatkan sang pangeran sedang berlutut di atas seorang perempuan.

Elon Musk

Pendiri Tesla dan pemilik X ini muncul dalam beberapa email dari tahun 2012-2013. Isinya membahas rencana kunjungan ke pulau pribadi Epstein di Karibia. Tapi, apakah kunjungan itu benar-benar terjadi? Itu masih belum jelas.

Musk sendiri bersikeras menolak semua ajakan Epstein. Di platform X miliknya, dia pernah menulis dengan tegas: “Epstein mencoba membujuk saya untuk pergi ke pulaunya dan saya MENOLAK.”

Richard Branson

Pendiri Virgin Group ini ternyata masih bertukar email dengan Epstein bertahun-tahun setelah Epstein mengaku bersalah pada 2008. Dalam satu email tahun 2013, Branson bahkan mengundang Epstein ke pulau pribadinya.

"Kapan pun Anda berada di daerah ini, saya akan senang bertemu Anda. Asalkan Anda membawa harem Anda!" tulis Branson saat itu.

Perusahaan Virgin kemudian berkilah, menyatakan hubungan itu murni bisnis dan sudah diputus begitu Branson mengetahui tuduhan serius terhadap Epstein.

Steven Tisch

Pemilik klub New York Giants ini namanya disebut lebih dari 400 kali. Email menunjukkan Epstein kerap menawarkan untuk mengenalkan Tisch dengan berbagai perempuan.

“Kami memiliki hubungan singkat berupa pertukaran email tentang perempuan dewasa, film, filantropi, dan investasi,” ujar Tisch menanggapi.

Beberapa Nama Lainnya

Daftarnya masih panjang. Casey Wasserman, Presiden Komite Olimpiade LA 2028, tercatat mengirim email bernada genit kepada Ghislaine Maxwell pada 2003. Ehud Barak, mantan PM Israel, mengakui pernah terbang dengan pesawat pribadi Epstein namun menyangkal melihat hal tak pantas.

Lalu ada Howard Lutnick, Menteri Perdagangan AS di era Trump, yang disebut mengunjungi pulau Epstein bersama keluarga bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Sergey Brin, pendiri Google, pernah dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam di rumah Epstein. Steve Bannon, mantan penasihat Trump, bertukar ratusan pesan dengan Epstein, bahkan membahas proyek dokumenter untuk pemulihan reputasi.

Di Slovakia, penasihat keamanan nasionalnya, Miroslav Lajcak, terpaksa mengundurkan diri setelah korespondensinya dengan Epstein terungkap. Ia bersikeras itu semua urusan diplomatik.

Dokumen-dokumen ini, pada akhirnya, seperti membuka luka lama. Mereka tidak membawa dakwaan baru, tetapi mencoreng reputasi dan mempertanyakan moralitas para elite yang pernah berhubungan dengan seorang predator yang sudah dihukum.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler