Di balik layar, di balik sorotan lampu dan peran-peran yang ia mainkan, Acha Septriasa menyimpan sebuah cerita. Bukan tentang film, tapi tentang masa kecilnya sendiri. Aktris yang dikenal dengan aura tenang dan elegan itu baru-baru ini membuka lembaran lama yang jarang ia sentuh di depan publik.
Dalam sebuah obrolan di Cipete, Jakarta Selatan, Kamis lalu, Acha bicara blak-blakan. Ia mengakui, luka emosional di masa kecil justru jadi guru yang paling berharga. Pelajaran itu membentuk cara pandangnya, bahkan dalam mengasuh anaknya sekarang.
"Saya dulu dibimbing dari A sampai Z," ujarnya.
Suaranya terdengar tenang, namun maknanya dalam. Pola asuh yang sangat terarah itu, aku Acha, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang dependent. Bergantung. Kurang percaya diri ketika harus memutuskan sesuatu sendiri.
Dampaknya ternyata terbawa lama. Saat menghadapi tekanan atau kegagalan, ada dua sisi yang muncul. Di satu sisi, ia bisa bangkit. Tapi di sisi lain, rasa frustrasi juga datang dengan cepat. Pengalaman itulah yang kemudian jadi bahan refleksi serius ketika dirinya kini berperan sebagai seorang ibu. Ia tak ingin sejarah terulang. Ia tak mau anaknya kehilangan suara, seperti yang sempat ia rasakan dulu.
"Saya ingin anak saya belajar mengambil keputusan sendiri," tegas Acha.
Baginya, kebebasan itu penting. Tentu saja, disesuaikan dengan usia dan kapasitas si anak. Dengan menyelesaikan masalahnya sendiri meski kecil anak akan belajar memahami konsekuensi. Mentalnya pun akan lebih kuat terbentuk. Menurut Acha, pelajaran hidup yang paling berharga justru tidak selalu datang dari buku pelajaran. Interaksi sehari-hari, pengalaman nyata, itulah ruang kelas yang sesungguhnya.
"Anak perlu belajar strategi hidup dari pengalaman, bukan hanya teori," katanya lagi.
Pemikirannya ini juga ia terapkan dalam hal pertemanan. Acha mengajarkan anaknya untuk tidak memaksakan hubungan yang tidak sehat. Mengenali batas diri, dan belajar menghargai sebuah penolakan, adalah keterampilan hidup yang krusial sejak dini.
Pada akhirnya, setiap anak punya identitasnya sendiri. Pilihan hidupnya sendiri. Peran orang tua, dalam pandangan Acha, adalah mendampingi. Bukan mengendalikan. Filosofi ini ternyata juga ia temukan ketika membintangi film Titip Bunda di Surgamu. Di film itu, ia memerankan Alya, seorang anak pertama yang tumbuh tanpa ruang untuk berbicara di keluarganya sendiri.
"Tidak punya suara dalam keluarga bisa meninggalkan luka yang sangat dalam," ungkapnya.
Luka yang dipendam sejak kecil, menurutnya, bisa terbawa hingga dewasa kalau tidak pernah dikomunikasikan. Itulah pesan kuat yang ingin ia sampaikan lewat film tersebut. Kini, Acha bersyukur. Komunikasi dengan anaknya terbuka. Ia berharap pengalaman pahit masa lalunya bisa berubah jadi pelajaran, bukan warisan luka untuk generasi berikutnya.
Jadi, siapa Acha Septriasa sekarang? Lebih dari sekadar aktris papan atas. Ia adalah sosok ibu yang reflektif, yang dengan berani membongkar memori masa kecil untuk menata pola asuh yang lebih sehat. Kisahnya terasa manusiawi. Dan justru karena itu, sangat relevan untuk kita semua.
Artikel Terkait
PRIMARIA FEST 2026 Siap Digelar di Empat Kota, Angkat Indonesian Bounce Music ke Panggung Lebih Luas
RCTI Luncurkan Healing Jalur King Nassar, Variety Show yang Padukan Curhat, Musik, dan Empati
Yenny Wahid Akui Salah Dress Code di Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju
Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, Sebut Ahmad Dhani Sahabat dan Kader Gerindra