Prilly Latuconsina Temukan Makna Tahun Baru di Balik Sunyinya Lonceng Kuil Jepang

- Jumat, 02 Januari 2026 | 10:30 WIB
Prilly Latuconsina Temukan Makna Tahun Baru di Balik Sunyinya Lonceng Kuil Jepang

Biasanya, tahun baru itu soal pesta, kembang api, dan teriakan hitung mundur. Tapi bagi Prilly Latuconsina, malam pergantian tahun kali ini benar-benar lain. Ia merayakannya di Jepang, jauh dari hingar-bingar yang sudah jadi kebiasaan.

Lewat Instagram, aktris itu membagikan pengalamannya. Ternyata, tahun baru bisa dirayakan dengan cara yang jauh lebih tenang dan penuh makna. Tak ada dentuman kembang api atau kerumunan orang yang bersorak. Yang ada justru ketenangan yang langka.

"Tahun baru kali ini rasanya berbeda. Untuk pertama kalinya, kami merayakan tahun baru di Jepang. Tanpa kembang api. Tanpa hitung mundur yang riuh,"

Begitu tulis Prilly dalam unggahannya, Jumat lalu.

Malam sebelumnya, Prilly dan sang kekasih, Omara Esteghlal, berjalan kaki menuju Kuil Zojoji. Suasananya sungguh kontras. Sunyi, tertib, dan penuh dengan rasa hormat. Orang-orang berjalan pelan, tak terburu-buru. Seolah mereka semua sepakat bahwa momen ini bukan untuk diramaikan, melainkan untuk dihayati.

"Malam sebelum pergantian tahun, orang-orang berwalkan pelan menuju Zojoji Temple. Sunyi, tertib, dan penuh rasa hormat,"

Begitu sampai, aktivitas di kuil itu pun dimulai. Orang-orang berdoa, ada yang mengambil ramalan keberuntungan, ada pula yang sibuk menulis harapan di sebilah kayu kecil. Prilly dan Omara pun ikut serta. Mereka menuliskan isi hati di kayu itu, lalu menggantungnya bersama ratusan harapan lainnya.

"Di sana orang-orang berdoa. Mengambil keberuntungan dan menuliskan harapan,"

"Kami ikut menuliskan harapan di kayu kecil ini, lalu menggantungkannya, seolah menitipkan isi hati dengan tenang," sambungnya.

Di sekeliling area, ada stan-stan makanan kaki lima. Orang-orang makan dan mengobrol dengan suara rendah, santai sekali. Tak ada kesan pesta pora. Semuanya sederhana, tapi justru terasa hangat. Dalam kesederhanaan itu, Prilly merasakan suatu kedekatan yang tulus antar orang asing.

Lalu, momen yang paling berkesan itu datang. Bunyi lonceng mulai bergema, menandai dimulainya tradisi Joya no Kane. Lonceng itu dibunyikan sampai 108 kali, sebagai simbol pelepasan dari 108 nafsu duniawi. Setiap dentangnya terasa dalam, pelan, dan punya daya tenang yang luar biasa.

"Lalu terdengar bunyi lonceng. Tradisi Joya no Kane, lonceng dibunyikan 108 kali, sebagai simbol melepaskan 108 nafsu duniawi dan menyambut tahun baru dengan jiwa yang lebih bersih," ungkapnya.

Dari pengalaman itu, Prilly dapat sebuah pelajaran berharga. Merayakan ternyata tak harus selalu heboh. Tak harus tentang keramaian dan suara yang memekakkan telinga. Makna justru sering muncul saat kita memilih untuk diam, menenangkan pikiran, dan benar-benar menyelami diri sendiri.

"Kami baru sadar, merayakan tidak selalu harus heboh. Kadang, maknanya justru hadir saat kita diam... dan benar-benar mendengarkan diri sendiri," tulis Prilly.

Intinya, tahun baru ini mengajarkannya bahwa yang terpenting bukanlah kemeriahan perayaannya. Melainkan, kesiapan batin untuk memulai lembaran baru. Memulai dengan harapan yang lebih jujur, tanpa beban berlebihan, dan dengan ketenangan di dalam hati.

"Tahun baru kali ini mengajarkanku satu hal: yang paling penting bukan suara perayaannya, tapi kesiapan batin untuk memulai lagi,"

Ia menutup renungannya dengan sebuah harapan. Bukan cuma untuk dirinya, tapi untuk semua orang. Semoga kita bisa memulai tahun ini dengan versi diri yang lebih utuh. Lebih sadar, lebih tenang, dan lebih berani jujur tentang apa yang kita butuhkan sebenarnya.

"Dengan harapan yang lebih jujur dan hati yang lebih tenang. Semoga kita semua memulai dengan versi diri yang lebih utuh," tutup Prilly.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar