Elektabilitas Ridwan Kamil terpantau anjlok. Deretan kontroversi yang menyeret namanya belakangan ini, membuat pakar hukum ikut menyoroti masa depan karier politiknya.
Nama Ridwan Kamil memang tak pernah sepi dari perhatian. Tapi beberapa bulan terakhir, sorotan terhadap mantan Gubernur Jawa Barat itu terasa berbeda. Bukan karena prestasi, melainkan sederet masalah pribadi yang tumpah ruah ke ruang publik.
Semuanya berawal dari gosip yang cukup mengguncang: desas-desus bahwa ia punya anak dari hubungan di luar nikah dengan model Lisa Mariana. Isu itu ramai sekali, sampai-sampai harus dibuktikan dengan tes DNA. Hasilnya? Negatif. Tapi gelombang masalahnya ternyata tak berhenti di situ.
Tak lama setelahnya, giliran rumah tangganya yang goyah. Atalia Praratya, istri yang mendampinginya selama 29 tahun, justru mengajukan gugatan cerai. Anggota DPR dari Fraksi Golkar itu resmi mendaftarkan gugatannya di Pengadilan Agama Bandung pada pertengahan Desember 2025.
Prosesnya masih berjalan, dan sidang lanjutan dijadwalkan pada 21 Januari mendatang. Di tengah vakumnya kepastian hukum itu, muncul lagi nama-nama lain. Safa Marwa, lalu penyanyi Aura Kasih, disebut-sebut netizen punya kaitan khusus dengan Ridwan Kamil. Beredar analisis liar alias ‘cocokologi’ di media sosial yang mencoba menghubung-hubungkan titik-titik tersebut.
Persoalannya ternyata tak cuma seputar ranjang. Di sisi lain, Ridwan Kamil juga berhadapan dengan proses hukum yang lebih serius. KPK dikabarkan sedang menyelidiki dugaan korupsi dalam pengadaan belanja iklan di sebuah bank daerah. Beban yang ditanggungnya semakin berat.
Melihat rentetan ini, pengamat politik Citra Institute, Efriza, punya pandangan khusus. Ia menyebut apa yang dialami Ridwan Kamil sebagai sebuah turbulensi politik yang parah.
“Kalau kita lihat perjalanan karier politiknya, kondisi sekarang ini bisa dibilang fenomena turbulensi dengan penurunan yang sangat tajam,” kata Efriza.
Menurutnya, masalah yang dihadapi Kang Emil sapaan akrab Ridwan Kamil sudah meluas. Tidak lagi sekadar urusan kebijakan atau pencitraan.
“Persoalan pribadi yang melibatkan keluarga, plus sorotan hukum, ikut membebani citra publiknya. Semuanya jadi satu,” lanjut Efriza.
Ia menilai, sejak 2024 hingga akhir tahun ini, posisi politik Ridwan Kamil merosot signifikan. Peluangnya untuk tampil sebagai calon presiden yang diperhitungkan pun dianggap kian menjauh.
“Berbagai kasus hukum, persoalan keluarga, isu kepemimpinan, hingga sorotan terhadap aspek moral menjadi faktor yang turut memengaruhi penilaian publik terhadapnya,” pungkasnya.
Menyadari dirinya jadi pusat badai, Ridwan Kamil akhirnya angkat bicara. Lewat unggahan di Instagram, ia menyampaikan permohonan maaf terbuka.
Dalam postingan itu, ia mengakui kekhilafan dan dosa selama pernikahan berlangsung. Ridwan Kamil menyadari Atalia berhak atas kebahagiaan, meski jalan yang dipilih adalah berpisah.
“Saya mengakui selama 29 tahun pernikahan, saya banyak melakukan kekhilafan dan dosa kepada istri saya Atalia, sehingga perpisahan ini adalah hak beliau untuk bahagia dalam hidupnya tanpa ada saya di dalamnya,” tulisnya.
Ia memohon ampun pada Tuhan, dan berharap diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
“Semoga Allah, Sang Maha Pengampun, memberikan rida-Nya untuk memberi saya kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik dan bertaqwa,” tambahnya.
Artikel Terkait
Sule Bawa Kejutan dan Gelak Tawa di Konser Comeback Mahalini
Mahalini Kembali ke Panggung, Konser KOMA Hangatkan Istora Senayan
Agrikulture Rilis Single Baru Terang Di Gelap Cahaya, Usung Refleksi Urban Lewat Dance-Punk
Rizky Febian Gandeng Musisi Tunanetra Willy Albani Rilis Single Mencinta Tanpa Arah