IDAI Ingatkan Orang Tua: Lima Kunci Penting Saat Memilih Makanan Olahan untuk Balita

- Minggu, 01 Februari 2026 | 15:18 WIB
IDAI Ingatkan Orang Tua: Lima Kunci Penting Saat Memilih Makanan Olahan untuk Balita

Orang tua perlu jeli membaca label kemasan makanan untuk anak. Itulah seruan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belakangan ini. Tujuannya jelas: memastikan asupan nutrisi yang tepat dan aman, terutama untuk anak di bawah tiga tahun yang masih dalam masa tumbuh kembang pesat.

Namun begitu, IDAI tak lupa mengingatkan. Makanan asli atau real food tetaplah pilihan yang lebih baik. Jadi, selain teliti memeriksa kemasan, membatasi konsumsinya juga langkah yang bijak.

Menurut Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), dari UKK Nutrisi IDAI, produk dengan izin edar BPOM sebenarnya sudah melalui standar ketat. Tapi, peran orang tua untuk mencermati detailnya tetap krusial.

Dalam sebuah webinar belum lama ini, dr. Klara membeberkan lima hal kunci yang wajib diperhatikan saat memilih produk pangan olahan.

Lima Poin Penting di Balik Label Kemasan

Pertama, soal tanggal. Cek selalu tanggal kedaluwarsa. Meski seharusnya sudah tak beredar, kesalahan stok atau kelalaian bisa saja terjadi. dr. Klara menggarisbawahi, ada dua jenis penanda waktu: expired date dan best before.

Expired date berarti produk itu sudah tak layak konsumsi setelah tanggalnya, berisiko mengandung hal berbahaya,” jelasnya.

“Nah, sedangkan best before itu lebih longgar. Tapi khusus untuk anak di bawah tiga tahun, semua produk harus memakai patokan expired date,” tambahnya.

Kedua, urutan bahan. Daftar komposisi itu disusun berdasarkan jumlah, dari yang terbanyak ke paling sedikit. Jadi, bahan di urutan pertama adalah yang dominan. Ini cara sederhana untuk tahu apa sebenarnya yang paling banyak dimakan anak kita.

“Contohnya, kalau tertulis ‘susu sapi segar 85,92%’ di urutan pertama, ya itu komponen utamanya,” ujar dr. Klara.

Ketiga, Tabel Informasi Nilai Gizi. Perhatikan baik-baik takaran sajinya. Angka-angka kandungan gizi yang tertera hanya berlaku untuk takaran itu, bukan untuk seluruh isi kemasan. Seringkali kita terkecoh, mengira angkanya untuk satu bungkus kecil.

Keempat, klaim pada kemasan. Ini bagian yang sering bikin silau. dr. Klara mengingatkan, untuk pangan umum, aturan BPOM tidak mewajibkan pencantuman detail vitamin dan mineral seperti A atau C. Yang wajib ada justru makronutrien: lemak, karbohidrat, dan protein.

Jadi, jangan langsung tergiur klaim “mengandung vitamin”. Pahami dulu perbedaannya, agar tidak mudah terjebak jargon promosi.

Kelima, kategori pangan. Anak di bawah tiga tahun masuk populasi khusus yang butuh perlindungan ekstra. Produk untuk mereka harus memenuhi syarat lebih ketat, apalagi jika masuk kategori pangan diet khusus. Jangan asal beli.

Di sisi lain, dr. Klara juga merinci bahwa klaim pada label ada lima jenis: gizi, kesehatan, isotonik, vegan, dan mikroorganisme. Klaim gizi mencakup kandungan atau perbandingan zat gizi, juga klaim “tanpa tambahan” gula atau gluten. Sementara klaim kesehatan berkaitan dengan fungsi zat gizi atau penurunan risiko penyakit.

Dengan memahami kelima poin ini, diharapkan orang tua bisa lebih kritis dan bijak. Tujuannya satu: memenuhi nutrisi anak secara optimal dan meminimalkan risiko gangguan kesehatan sejak dini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler