Wanita Selalu Benar: Pujian Palsu yang Membebani Perempuan

- Minggu, 01 Februari 2026 | 06:06 WIB
Wanita Selalu Benar: Pujian Palsu yang Membebani Perempuan

"Wanita selalu benar." Pernah dengar kalimat itu? Di permukaan, terdengar seperti pujian. Tapi coba renungkan lagi. Rasanya lebih mirip senjata pamungkas untuk membungkam. Alih-alih memuliakan, frasa itu justru jadi cara yang sangat halus dan licik untuk menyalahkan. Perempuan, dalam posisi apa pun, seolah selalu jadi tersangka utama. Entah sebagai istri, sebagai ibu, atau sekadar sebagai manusia biasa yang kebetulan punya rahim.

Standar Kesempurnaan yang Mencekik

Begitu statusnya berubah menjadi istri, tiba-tiba ada segunung standar yang harus dipenuhi. Dia harus jago masak layaknya chef di TV, cekatan bersih-bersih rumah, tetap cantik dan segar sepanjang hari, plus jadi ibu yang tak kenal lelah. Semua harus sempurna. Lelah? Itu sepertinya kata yang tak ada dalam kamus. Istirahat? Jangan harap. Sakit? Ah, itu alasan yang terlalu klise.

Beban Ganda sebagai Ibu

Lalu datanglah peran sebagai ibu. Beban itu bertambah berat. Saat anak sakit, misalnya. Bukannya dapat dukungan, sang ibu malah dihujani tuduhan. Dicap tak becus merawat, dianggap lalai menjaga kesehatan. Seolah-olah penyakit itu adalah bukti kegagalan mutlak seorang ibu.

Namun begitu, ketika si anak berprestasi, pujiannya kemana? Seringkali justru ke ayah. "Anak Pak A hebat ya!"

Ini paradoks yang menyakitkan. Anak juara, ayah yang visioner. Anak bolos, ibu yang gagal mendidik. Sungguh beban yang tak seimbang.

Ketika Salah Selalu Ditimpakan ke Istri

Lihat juga soal perselingkuhan. Ini yang paling ironis. Ketika suami berselingkuh, yang diadili justru istrinya. Dia dituduh kurang perhatian, kurang menarik, atau kurang memahami suami. Perselingkuhan seolah jadi sebuah konsekuensi yang tak terelakkan, bukan pilihan sadar dari pelakunya. Mirip bencana alam, katanya. Bukan dosa.

Rahim jadi Tolok Ukur

Belum lagi urusan keturunan. Perjuangan memiliki anak sering jadi medan penghakiman tersendiri. Perempuan yang dianggap 'mandul' langsung dicemooh, direndahkan, bahkan dianggap tak layak dipertahankan. Rahim seakan-akan jadi satu-satunya nilai yang dia punya.

Padahal, kalau yang bermasalah justru pihak suami, ceritanya bisa lain. Sering ditutup-tutupi. Ada semacam pembelaan diam-diam, seolah laki-laki tak mungkin bersalah dalam hal ini.

Kerja Domestik yang Tak Pernah Dianggap

Lalu ada kerja domestik. Pekerjaan yang tak kunjung usai ini nyaris tak pernah dianggap sebagai kerja. Rumah berantakan? Salah istri. Tak ada makanan hangat? Istri lalai. Piring menumpuk? Pertanda dia malas.

Padahal, coba bayangkan. Kerja ini tanpa jam pulang, tanpa gaji, dan hampir tanpa apresiasi. Coba satu hari saja tugasnya terbengkalai, pertanyaan sinis langsung meluncur: "Dari tadi ngapain aja sih?"

Ketimpangan yang Dinormalisasi

Semua ini berakar dari pola yang ditanamkan sejak kecil. Perempuan dididik dekat dengan dapur dan pel, sementara laki-laki dibebaskan. Ketimpangan ini lalu diwariskan, dinormalisasi, dan akhirnya dikatakan sebagai kodrat.

Yang lucu atau lebih tepatnya menyedihkan ketika seorang suami sekadar menggendong anak atau mencuci piring, dia langsung dipuji sebagai "ayah luar biasa". Sementara istri yang menjalankan segalanya, dari urusan dalam rumah sampai cari nafkah, dianggap sebagai kewajiban biasa saja. Tidak istimewa.

Kesimpulan

Jadi, inilah realita di balik frasa "wanita selalu benar". Sebuah sistem yang gemar menyalahkan, dibungkus dengan pujian palsu. Itu bukan pemuliaan. Itu adalah cara untuk mematikan suara, meredam protes, dan menuntut ketabahan tanpa akhir.

Perempuan tidak selalu benar. Itu fakta. Tapi yang lebih nyata adalah ini: perempuan terlalu sering dipaksa menanggung kesalahan yang bukan miliknya.

Jadi, kalau masih ada yang bersikeras mengucapkan, "Wanita selalu benar," mungkin kita bisa balas dengan jujur. Iya, benar-benar sering disalahkan. Benar-benar sering dituntut. Benar-benar sering jadi kambing hitam.

Kalau itu definisi "selalu benar", silakan saja. Tapi jangan kaget kalau nanti perempuan berhenti diam. Lalu balik bertanya dengan lantang:

"Kalau kami memang selalu benar, kenapa yang salah tetap kami yang tanggung?"

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler