Tiga Ayat Terakhir Al Hasyr: Benarkah Dampingi 70 Ribu Malaikat?

- Rabu, 17 Desember 2025 | 05:55 WIB
Tiga Ayat Terakhir Al Hasyr: Benarkah Dampingi 70 Ribu Malaikat?

JAKARTA Bagi umat Islam, menghafal dan mengamalkan tiga ayat terakhir Surat Al Hasyr disebut-sebut punya keutamaan yang luar biasa. Salah satunya? Didampingi 70.000 malaikat yang memohonkan ampunan untuknya. Makanya, tak heran jika ayat-ayat ini begitu dianjurkan untuk dihafal.

Surat Al Hasyr sendiri, yang artinya "Pengusiran", menceritakan soal makar yang dilakukan orang-orang Yahudi Bani Nadir terhadap kaum beriman. Mereka ingkar janji. Di sisi lain, surat Madaniyah yang terdiri dari 24 ayat ini juga menggambarkan balasan bagi siapa saja yang menolak kebenaran Alquran. Dulu, Ibnu Abbas bahkan menyebutnya sebagai surat Bani Nadir.

Nah, ini bacaan lengkap untuk ayat 22 sampai 24.

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Latinnya: Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah(ti), huwar-raḥmānur-raḥīm(u). Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), al-malikul-quddūsus-salāmul-mu'minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir(u), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a). Huwallāhul-khāliqul-bāri'ul-muṣawwiru lahul-asmā'ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).

Artinya kurang lebih: Dialah Allah, tak ada tuhan selain Dia. Yang tahu yang gaib dan yang nyata, Maha Pemurah lagi Penyayang. Dialah Raja, Mahasuci, Pemberi rasa aman, Sang Pemelihara, Mahaperkasa, Mahakuasa, Pemilik segala keagungan. Mahasuci Allah dari segala yang mereka sekutukan. Dialah Sang Pencipta, Yang Mengadakan, Pembentuk rupa, Pemilik nama-nama terindah. Segala yang di langit dan bumi bertasbih pada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al Hasyr: 22-24).

Lalu, apa sih keutamaannya?

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebuah hadis. Dari Ma’qil bin Yasar, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa mengucapkan di waktu pagi tiga kali: ‘Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk,’ lalu membaca tiga ayat terakhir Surat Al-Hasyr, maka Allah akan menugaskan tujuh puluh ribu malaikat untuk memohonkan ampun baginya sampai petang. Kalau dia mati di hari itu, matinya syahid. Siapa yang baca di waktu petang, dapat kedudukan yang sama.” (HR. Tirmidzi).

Namun begitu, catatannya penting. Menurut sejumlah kajian, Imam Tirmidzi sendiri menyebut hadis ini sebagai hadis gharib, yang statusnya dianggap lemah (dha’if) oleh banyak ulama.

Lantas, bolehkah kita mengamalkannya?

Di sinilah para ulama agak berbeda pendapat. Sebagian melarang keras. Tapi sebagian lain, seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, membolehkan dengan syarat ketat. Hadis dha’if boleh dipakai untuk urusan keutamaan amal (fadhailul a’mal) atau motivasi, asalkan bukan hadis palsu.

Tapi untuk hal-hal yang bersifat hukum, seperti halal-haram, jual-beli, atau nikah? Jangan. Harus pakai hadis yang shahih atau hasan. Titik.

Jadi, terkait keutamaan Surat Al Hasyr ayat 22-24 ini, ada ruang untuk mengharap fadhilah-nya, sembari tetap menyadari status hadisnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler