Waspadai 6 Penyakit yang Mengintai di Balik Genangan Banjir

- Selasa, 09 Desember 2025 | 20:30 WIB
Waspadai 6 Penyakit yang Mengintai di Balik Genangan Banjir

Banjir tak cuma membawa air dan lumpur. Di Aceh, Sumut, hingga Sumbar, situasinya cukup parah. Sementara itu, di Bandung dan sejumlah kawasan pesisir, ancaman banjir rob juga mulai terasa. Bencana ini, tentu saja, meninggalkan sederet masalah yang harus dihadapi warga.

Kerusakan rumah dan jalan jelas terlihat. Tapi, ada ancaman lain yang lebih halus: risiko kesehatan yang melonjak. Bayangkan saja, air yang keruh, sanitasi yang amburadul, ditambah pengungsian yang sesak. Kombinasi itu jadi lahan subur bagi berbagai penyakit. Makanya, mengenali jenis-jenis penyakit yang biasa muncul saat banjir adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga keselamatan keluarga.

Waspadai Penyakit-Penyakit Ini Saat Banjir

Pertama, Diare dan Masalah Pencernaan Lainnya.

Menurut data Kemenkes, diare kerap menjadi penyakit yang paling banyak dilaporkan pasca banjir. Penyebabnya beragam. Bisa dari air minum yang sudah tercemar, atau makanan yang kurang terjaga kebersihannya. Lingkungan yang kotor juga memungkinkan bakteri dan virus berkembang biak dengan cepat.

Gejalanya? Buang air besar berkali-kali, badan lemas karena dehidrasi, dan sering disertai demam. Harus segera ditangani.

Kedua, Leptospirosis.

Nah, yang satu ini agak mengkhawatirkan. Penyakitnya berasal dari bakteri Leptospira, yang biasanya dibawa melalui kencing tikus atau hewan lain. Saat banjir datang, bakteri itu larut dan mencemari air. Kalau ada luka di kulit dan terkena air itu, bisa bahaya.

Gejalanya cukup khas: demam tinggi tiba-tiba, sakit kepala berat, dan nyeri otot terutama di bagian betis. Mata sering memerah, disertai mual dan muntah. Jangan dianggap sepele, karena leptospirosis bisa berakibat fatal kalau terlambat ditangani.

Ketiga, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Di tempat pengungsian yang padat dan lembap, ISPA mudah sekali menular. Faktornya macam-macam: udara dingin, paparan polusi dari lumpur dan sampah, serta daya tahan tubuh yang biasanya menurun saat musibah.

Batuk, pilek, radang tenggorokan, dan demam ringan adalah tanda-tandanya.

Keempat, Berbagai Masalah Kulit.

Kontak langsung dengan air banjir yang kotor sering memicu iritasi kulit. Mulai dari gatal-gatal biasa, infeksi jamur, dermatitis, sampai infeksi bakteri yang lebih serius. Semakin lama kulit terendam, risikonya semakin besar.

Kelima, Demam Berdarah Dengue (DBD).

Nah, ini justru perlu diwaspadai setelah banjir mulai surut. Genangan air sisa banjir adalah tempat favorit nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Jadi, ancaman DBD justru meningkat beberapa minggu pasca bencana.

Gejalanya demam tinggi mendadak, nyeri sendi, mual, dan muncul ruam di kulit.

Keenam, Hepatitis A.

Penyakit ini menular lewat makanan atau air yang terkontaminasi virus. Situasi banjir yang mengacaukan pasokan air bersih sangat memungkinkan penularan terjadi.

Penderitanya akan merasakan mual, lemas luar biasa, dan nyeri di bagian perut kanan atas. Urine berwarna gelap seperti teh dan kulit yang menguning adalah tanda yang lebih khas.

Lalu, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Beberapa langkah praktis ini bisa membantu mengurangi risiko:

  • Selalu rebus air minum hingga benar-benar mendidih. Jangan coba-coba minum air yang belum dipastikan kebersihannya.
  • Disiplin cuci tangan pakai sabun, terutama sebelum makan.
  • Pakai alas kaki, boot karet misalnya, kalau terpaksa harus menerobos air banjir.
  • Segera mandi dan bersihkan diri dengan sabun setelah kontak dengan air banjir.
  • Begitu air surut, segera bersihkan lingkungan dari lumpur dan genangan.
  • Oleskan lotion anti-nyamuk, terutama pada anak-anak, untuk mencegah DBD.
  • Yang terpenting, jangan tunda untuk periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan jika muncul gejala-gejala yang mencurigakan. Lebih baik waspada daripada menyesal.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler