Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (16/7/2026), seiring optimisme pasar terhadap prospek kinerja perusahaan yang menargetkan lonjakan produksi katoda tembaga lebih dari dua kali lipat pada tahun ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pukul 10.19 WIB, harga saham AMMN naik 4,52 persen ke level Rp3.930 per unit dengan nilai transaksi mencapai Rp183,94 miliar. Dalam sepekan terakhir, saham emiten tambang ini telah melesat 13,91 persen.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai, prospek cerah AMMN ditopang oleh rencana peningkatan volume produksi katoda tembaga yang menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan. "Pendapatan AMMN dari tembaga sebesar 64 persen, sementara harga tembaga di LME secara year-to-date naik sekitar 9 persen," ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Michael, target menggandakan produksi katoda tembaga pada 2026 berpotensi mendorong lonjakan pendapatan secara signifikan. "Dengan potensi double copper output cathode di 2026, maka secara kasar AMMN akan meningkatkan pendapatannya di kisaran 2-3 kali lipat. NIM growth," katanya.
Jika target tersebut tercapai, valuasi saham AMMN dinilai akan menjadi jauh lebih menarik. "Saat ini AMMN berada dalam rasio Price-to-Earnings (PE) 26 kali. Jika realisasi produksi sesuai rencana, PE tahun depan bisa turun ke kisaran 10-12 kali," tutur Michael.
Dari sisi teknikal, saham AMMN masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah dikeluarkan dari indeks MSCI akibat aturan kepemilikan lebih dari 1 persen. "Secara teknikal, setelah keluar dari MSCI karena rilis data kepemilikan di atas 1 persen, AMMN berkonsolidasi di antara support 3.500 dan resistance 4.000," ujarnya. Ia menambahkan, penembusan level resistance tersebut dapat menjadi sinyal pembalikan arah tren. "Melewati angka 4.000, maka AMMN akan reversal dengan potensi kenaikan hingga 5.000," demikian Michael menutup analisisnya.
Bidik Produksi Katoda Tembaga Naik Dua Kali Lipat
Sebelumnya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), unit utama AMMN, menargetkan lonjakan produksi katoda tembaga pada 2026 seiring smelter perusahaan yang telah beroperasi penuh setelah menyelesaikan proses peningkatan kapasitas (ramp-up).
Direktur Utama Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau mengatakan, perseroan menargetkan produksi katoda tembaga mencapai 162.662 metrik ton kering pada tahun ini, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi 79.848 ton pada 2025. Selain katoda tembaga, perusahaan menargetkan produksi emas sebesar 16.119 kilogram dan perak sebanyak 45.439 kilogram. Sementara itu, produksi asam sulfat diproyeksikan mencapai 572.036 metrik ton kering sepanjang tahun ini.
Rachmat menjelaskan smelter tembaga Amman telah menyelesaikan proses ramp-up pada April 2026. Sebelumnya, fasilitas tersebut sempat mengalami beberapa insiden kebocoran pada tahun lalu yang memaksa perusahaan mengulang proses commissioning. "Per Juni 2026, kami sudah mampu mengolah seluruh produksi dari tambang. Kami yakin seluruh konsentrat tembaga yang dihasilkan tambang tahun ini dapat diserap sepenuhnya," ujar Rachmat dalam rapat dengan komisi parlemen pada Selasa (14/7).
Meski demikian, Amman masih menjadwalkan penghentian sementara operasional smelter pada akhir tahun, sekitar Desember 2026 atau Januari 2027, untuk melakukan perbaikan lanjutan pada fasilitas tersebut.