PPRE Reshuffle Direksi dan Komisaris, Bukukan Pendapatan Rp3,9 Triliun di 2025

- Jumat, 26 Juni 2026 | 08:40 WIB
PPRE Reshuffle Direksi dan Komisaris, Bukukan Pendapatan Rp3,9 Triliun di 2025

PT PP Presisi Tbk (PPRE) mengumumkan perubahan jajaran direksi dan dewan komisaris setelah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2026, serta RUPSLB Independen Tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan kepemimpinan perusahaan di tengah dinamika industri yang terus berubah.

Dalam susunan baru yang ditetapkan, posisi Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen diisi oleh Narwanto. Dua komisaris lainnya adalah Maulana Malik Ibrahim dan Albert Simangunsong. Sementara itu, di jajaran direksi, Rizki Dianugrah ditunjuk sebagai Direktur Utama. Ramlan Nurdiansah menjabat Direktur Keuangan & Human Capital Management, dan Yovi Hendra dipercaya sebagai Direktur Operasi.

Di balik perubahan struktur kepemimpinan itu, perseroan mencatatkan kinerja yang tetap solid. Pada tahun buku 2025, PPRE membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,9 triliun. Angka ini naik sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,8 triliun. Pencapaian tersebut disebut sebagai hasil dari strategi diversifikasi bisnis yang dijalankan secara konsisten, sekaligus menjaga produktivitas operasional tetap berkelanjutan.

Ketahanan fundamental perseroan juga terlihat dari sejumlah rasio keuangan. Rasio likuiditas atau current ratio tercatat sebesar 1,15 kali, masih berada di atas batas covenant perbankan yang ditetapkan sebesar 1,1 kali. Adapun rasio utang berbunga terhadap ekuitas atau interest bearing debt to equity ratio berada di level 0,86 kali, juga di bawah batas covenant yang disyaratkan.

Informasi ini disampaikan dalam keterangan tertulis PPRE pada Jumat, 26 Juni 2026. Manajemen menilai bahwa kombinasi antara diversifikasi bisnis dan pengelolaan keuangan yang disiplin menjadi kunci dalam menjaga stabilitas perusahaan di tengah tekanan industri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.