Wall Street ditutup dengan kinerja beragam pada perdagangan Senin waktu setempat, di mana Indeks S&P 500 dan Nasdaq tertekan akibat penurunan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatatkan penguatan, didorong oleh sektor kesehatan dan industri. Kondisi ini terjadi di tengah investor yang juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Sebaliknya, S&P 500 turun 27,79 poin atau 0,37 persen menjadi 7.472,79, sementara Nasdaq Composite anjlok 351,33 poin atau 1,32 persen ke posisi 26.166,60. Penurunan Nasdaq terutama dipengaruhi oleh amblesnya saham SpaceX hingga 16,4 persen, yang merupakan penurunan harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan tersebut. Meski demikian, harga saham SpaceX masih diperdagangkan di atas harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar 135 dolar AS per saham. Perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu juga baru saja meluncurkan penawaran utang pertamanya pada Senin dan mengumumkan memiliki kas dan setara kas sekitar 100,8 miliar dolar AS per 19 Juni.
Sementara itu, optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menopang reli Wall Street mulai diuji. Analis mencatat semakin banyak investor yang mempertanyakan besarnya belanja modal untuk ekspansi infrastruktur oleh perusahaan-perusahaan hyperscaler. Saham Alphabet tercatat turun 5 persen, sementara Meta, Amazon, dan Microsoft masing-masing melemah antara 2,3 persen hingga 4,7 persen. Ujian berikutnya bagi reli pasar adalah laporan kinerja kuartalan Micron Technology yang dijadwalkan pada Rabu. Saham produsen chip memori tersebut telah melonjak hampir 300 persen sepanjang tahun ini.
Di sektor lain, tujuh dari sebelas sektor utama S&P 500 berhasil ditutup menguat, dipimpin oleh sektor real estate dan energi. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi menjadi yang terlemah dengan mencatat penurunan sebesar 3,8 persen. Di pasar komoditas, harga minyak turun setelah Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Pejabat AS dan Iran disebut membuat “kemajuan besar” dalam putaran pertama pembicaraan di Swiss yang berakhir lebih awal pada Senin, menurut mediator, meskipun ketegangan masih terjadi terkait Lebanon dan Selat Hormuz.
Fokus pasar pada pekan ini juga akan tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Kamis. Indikator inflasi inti pilihan The Fed ini menjadi perhatian utama karena jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, hal itu dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Hal ini menyusul pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menekankan pentingnya menekan inflasi pada pertemuan pekan lalu. Saat ini, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada September, berdasarkan data dari LSEG.
Dari sisi perdagangan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 1,32 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE). Tercatat 345 saham mencapai level tertinggi baru dan 200 saham mencetak level terendah baru di NYSE. Di Nasdaq, sebanyak 2.078 saham naik dan 2.773 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 banding 1. S&P 500 mencatat 29 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 33 level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 144 level tertinggi baru dan 186 level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 22,12 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Artikel Terkait
Prospek Positif Logam dan Pertambangan di Tengah Penguatan Harga Nikel-Tembaga, Meski Royalti Masih Mengambang
Wall Street Beragam: Dow Menguat, Nasdaq Tertekan Ambrolnya Saham SpaceX
Wall Street Beragam: S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Saham Teknologi, Dow Jones Menguat
Wall Street Mixed: Saham Teknologi Anjlok, Dow Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran