Menapaki Tembok Besar China: Ketika Mimpi Masa Kecil Menjadi Kenyataan

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 08:36 WIB
Menapaki Tembok Besar China: Ketika Mimpi Masa Kecil Menjadi Kenyataan

Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, menjadi hari yang tak terlupakan bagi saya. Mimpi masa kecil yang selama ini hanya terbayang di halaman buku pelajaran akhirnya terwujud: berdiri di atas Tembok Besar China, salah satu keajaiban dunia yang selalu saya kagumi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hari itu, saya berada di Juyongguan, sebuah bagian tembok yang sarat nilai sejarah dan menjadi incaran wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Perjalanan menapaki anak tangga demi anak tangga dimulai. Cuaca yang cukup panas tidak menyurutkan langkah saya dan ribuan wisatawan lain yang datang dari berbagai negara. Di balik setiap pijakan, ada tekad kuat untuk mencapai titik tertinggi yang mampu saya raih. Bagi masyarakat Tiongkok, menaklukkan Tembok Besar adalah simbol perjuangan dan keteguhan, dan keyakinan itu ikut membakar semangat saya untuk terus melangkah.

Sesekali saya berhenti sejenak untuk mengamati kemegahan struktur tembok yang membentang mengikuti punggung pegunungan. Yang membuat saya kagum, pembangunan tembok ini tidak mengubah bentang alam yang ada. Sebaliknya, jalurnya justru menyatu dengan kontur gunung, seolah menjadi bagian dari lanskap yang telah ada sejak lama. Pemandangan di kiri dan kanan begitu memukau, membuat rasa lelah seolah terbayar lunas.

Melihat harmoni antara karya manusia dan alam ini, ingatan saya melayang ke masa kuliah semester tiga. Saat itu, dosen geografi menjelaskan dua cara pandang dalam melihat hubungan manusia dengan alam: determinisme dan posibilisme. Determinisme meyakini bahwa alam sangat memengaruhi kehidupan manusia, sementara posibilisme menekankan kemampuan manusia untuk mengembangkan potensi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdiri di atas Tembok Besar, saya justru merasa kedua pandangan itu tidak harus dipertentangkan. Pegunungan di Juyongguan membuktikan bahwa alam memang menentukan arah pembangunan, tetapi manusia mampu menciptakan karya besar tanpa menghilangkan karakter dasar alam. Gunung tidak dipaksa menjadi datar; manusia justru menyesuaikan rancangannya dengan kontur yang ada.

Di sinilah letak kebesaran Tembok Besar yang sesungguhnya. Ia bukan sekadar simbol kejayaan peradaban, melainkan juga bukti bahwa pembangunan tidak selalu berarti menaklukkan alam. Kadang, kemajuan justru lahir ketika manusia memilih untuk memahami, menghormati, dan membangun selaras dengan bentang alam yang telah diwariskan bumi.

Selama menyusuri tembok, saya tidak hanya berinteraksi dengan alam, tetapi juga dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Dari Asia, Afrika, hingga Eropa, mereka berkumpul di tempat yang sama untuk menyaksikan keagungan warisan peradaban ini. Saya datang bersama teman-teman delegasi, namun tidak semuanya memilih menapaki tembok hingga jauh ke atas. Sebagian memilih menikmati suasana di area bawah sambil membeli suvenir, sementara yang lain hanya berjalan hingga dua atau tiga menara pengamatan. Hanya sekitar empat atau lima orang yang melanjutkan perjalanan lebih jauh.

Dalam perjalanan itu, kami ditemani seorang teman dari Tiongkok yang pernah saya ceritakan dalam tulisan berjudul Summer Run in Beijing. Dengan celana pendek, kaus sederhana, topi putih, dan kamera yang selalu menggantung di lengannya, ia tampak begitu menikmati setiap sudut Tembok Besar. Beberapa kali wisatawan memuji kamera yang dibawanya, dan dengan ramah ia membantu mereka mengabadikan momen tanpa merasa keberatan.

Saat ia sibuk membantu wisatawan lain, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendiri. Tak lama kemudian, saya bertemu dengan seorang peserta dari Indonesia yang juga sedang menuju puncak. Kami pun berjalan bersama, menyusuri anak tangga demi anak tangga sambil sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan. Setibanya di Pos Pengamatan 10, ia memilih beristirahat, sementara saya masih ingin melangkah lebih jauh. Setelah meminta izin, ia bersedia menunggu di pos tersebut.

Saya melanjutkan perjalanan seorang diri hingga mendekati Pos Pengamatan 11. Semakin tinggi, semakin luas pemandangan yang terbentang. Jalur tembok terus berkelok mengikuti kontur pegunungan, menghadirkan panorama yang membuat rasa lelah seolah sirna. Namun, waktu kami terbatas. Seluruh peserta diminta kembali ke bus pada pukul 11.50 CST. Ketika saya berada di antara Pos Pengamatan 11 dan 12, jam di telepon genggam menunjukkan pukul 11.10 CST. Puncak di Pos Pengamatan 13 memang hanya tinggal dua pos lagi, tetapi saya memilih mengalah pada waktu daripada memaksakan keinginan. Saya pun berbalik arah. Barangkali, dua pos yang belum sempat saya tapaki menjadi alasan untuk kembali lagi suatu hari nanti.

Saat tiba kembali di Pos Pengamatan 10, peserta yang menunggu masih berada di tempat yang sama. Tidak lama kemudian, dua peserta lain dari Indonesia bersama teman saya dari Tiongkok datang menyusul. Kami saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing, lalu mengabadikan momen bersama dengan beberapa foto berlatar Tembok Besar dan hamparan pegunungan yang megah.

Perjalanan ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Dulu, Tembok Besar China hanyalah gambar di buku pelajaran sekolah dasar; kini, saya dapat berdiri, berjalan, dan menyaksikannya secara langsung. Sebuah mimpi masa kecil yang akhirnya menemukan jalannya menjadi kenyataan. Lebih dari itu, saya belajar bahwa setiap perjalanan tidak selalu diukur dari berhasil atau tidaknya mencapai puncak. Ada kalanya perjalanan dikenang karena orang-orang yang berjalan bersama kita, percakapan yang terjalin di sepanjang jalan, dan momen-momen sederhana yang kemudian menjelma menjadi kenangan tak terlupakan. Di Tembok Besar China, saya tidak hanya menemukan salah satu keajaiban dunia, tetapi juga menemukan pelajaran bahwa hubungan antara manusia, alam, dan sesama adalah bagian yang membuat sebuah perjalanan benar-benar bermakna.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags