Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (22/6/2026) waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite tertekan akibat penurunan signifikan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet, induk perusahaan Google. Kondisi ini terjadi di tengah investor yang juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatatkan penguatan, naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Kenaikan ini ditopang oleh sektor kesehatan dan industri. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 27,79 poin atau 0,37 persen menjadi 7.472,79, dan Nasdaq Composite merosot tajam 351,33 poin atau 1,32 persen ke posisi 26.166,60.
Salah satu pemberat utama Nasdaq adalah saham SpaceX yang anjlok 16,4 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sepanjang sejarah perusahaan antariksa milik Elon Musk itu. Meskipun demikian, harga saham SpaceX masih diperdagangkan di atas harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar 135 dolar AS per saham. Pada hari yang sama, perusahaan juga meluncurkan penawaran utang perdananya dan mengumumkan kepemilikan kas serta setara kas sekitar 100,8 miliar dolar AS per 19 Juni lalu.
Optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) sebelumnya menjadi motor penggerak reli Wall Street. Namun, para analis mencatat semakin banyak investor yang mulai mempertanyakan besarnya belanja modal untuk ekspansi infrastruktur oleh perusahaan hyperscaler. Saham Alphabet ambles 5 persen, sementara Meta, Amazon, dan Microsoft masing-masing turun antara 2,3 persen hingga 4,7 persen.
Ujian selanjutnya bagi momentum pasar akan datang dari laporan kinerja kuartalan Micron Technology yang dijadwalkan pada Rabu. Saham produsen chip memori tersebut telah melonjak hampir 300 persen sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, tujuh dari sebelas sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup menguat. Sektor real estate dan energi memimpin kenaikan, sementara sektor layanan komunikasi menjadi yang terlemah dengan penurunan mencapai 3,8 persen.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah turun setelah Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Pejabat kedua negara disebut telah membuat “kemajuan besar” dalam putaran pertama pembicaraan di Swiss yang berakhir lebih awal pada Senin. Meskipun demikian, ketegangan masih berlangsung terkait situasi di Lebanon dan Selat Hormuz.
Fokus utama pasar pada pekan ini juga akan tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis. Indikator inflasi inti pilihan Federal Reserve ini menjadi acuan kebijakan moneter ke depan. Jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter dapat menguat. Hal ini menyusul pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pada pekan lalu yang menekankan pentingnya menekan inflasi.
Saat ini, pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada September, berdasarkan data dari LSEG.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik di Bursa Efek New York (NYSE) dengan rasio 1,32 banding 1. Tercatat 345 saham mencapai level tertinggi baru dan 200 saham mencetak level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 2.078 saham naik dan 2.773 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 29 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 33 level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 144 level tertinggi baru dan 186 level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 22,12 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Artikel Terkait
Prospek Positif Logam dan Pertambangan di Tengah Penguatan Harga Nikel-Tembaga, Meski Royalti Masih Mengambang
Wall Street Beragam: Dow Menguat, Nasdaq Anjlok Akibat Saham Teknologi Besar dan SpaceX
Wall Street Beragam: Dow Menguat, Nasdaq Tertekan Ambrolnya Saham SpaceX
Wall Street Beragam: S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Saham Teknologi, Dow Jones Menguat