PT Proline Diagonistic Line Tbk, emiten produsen alat kesehatan diagnostik in vitro, resmi meluncurkan penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia. Melalui aksi korporasi ini, perseroan yang dikenal dengan kode saham PRDL menargetkan pencatatan saham pada Juli 2026.
Dalam prospektus yang diterbitkan pada Kamis, 18 Juni 2026, perusahaan akan menerbitkan sebanyak 522,9 juta lembar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari total modal ditempatkan dan disetor. Dengan harga penawaran berkisar antara Rp100 hingga Rp120 per saham, Proline berpotensi mengantongi dana segar maksimal Rp62,75 miliar.
Lebih dari separuh dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk melunasi utang. Tepatnya, sebanyak Rp35,67 miliar atau 57 persen dari total perolehan dana setelah dikurangi biaya emisi dialokasikan untuk membayar kewajiban kepada PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.
Untuk BCA, Proline berencana mempercepat pelunasan pinjaman sebesar Rp21,5 miliar yang seharusnya jatuh tempo pada September 2023. Pinjaman dengan bunga 7,75 persen per tahun itu sebelumnya digunakan untuk pembangunan kantor, gudang, dan laboratorium di Cikarang, Jawa Barat. Sementara itu, untuk Panin, perusahaan akan melunasi pinjaman senilai Rp14,12 miliar yang jatuh tempo pada Agustus 2033. Pinjaman tersebut dikenakan bunga 2 persen per tahun plus spread 0,5 persen dan digunakan untuk membeli tanah serta bangunan yang menjadi fasilitas produksi di kawasan yang sama.
Langkah pelunasan utang ini diharapkan mampu menekan beban bunga sekaligus memperkuat likuiditas dan struktur permodalan perusahaan. Hingga akhir Desember 2025, total liabilitas Proline tercatat sebesar Rp111,37 miliar, dengan porsi utang bank mencapai Rp94,2 miliar atau 85 persen dari total liabilitas.
Di sisi lain, perseroan juga mengalokasikan 28,92 persen dana IPO untuk belanja modal. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, sistem perangkat lunak, penataan ulang area produksi, serta penambahan alat untuk laboratorium biomolekuler. Sisanya, sekitar 8,51 persen, akan dimanfaatkan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya riset dan pengembangan produk, serta biaya penjualan dan pemasaran.
Apabila dana hasil IPO belum digunakan secara langsung, perseroan hanya akan menempatkannya pada instrumen keuangan yang aman, likuid, dan tidak volatil. Sebaliknya, jika dana yang terkumpul tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh rencana, perusahaan akan membiayai kekurangannya dari kas internal atau melalui pinjaman bank maupun lembaga non-perbankan.
Artikel Terkait
Stabilisasi Rupiah Jadi Kunci Pemulihan IHSG, DBS Revisi Target Akhir 2026 ke 8.000
IHSG Anjlok 0,99 Persen ke 6.159 di Awal Sesi, Mayoritas Sektor Terkoreksi
PT Bundamedik Bagikan Dividen Rp8,8 Miliar, Setara Rp1,03 per Saham
IHSG Ditutup Melemah 0,84 Persen ke Level 6.202, Mayoritas Sektor Tertekan