Pergerakan bursa saham Asia terpantau bervariasi pada perdagangan Selasa (16/6/2026) di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga dari Bank of Japan (BoJ) dan Reserve Bank of Australia (RBA). Sentimen kawasan masih mendapat dorongan dari penguatan Wall Street pada sesi sebelumnya, meskipun investor memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman kebijakan moneter dua bank sentral utama tersebut.
Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,3 persen, sementara TOPIX bergerak dalam rentang terbatas. Pasar menanti hasil rapat kebijakan BoJ yang secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen. Sinyal kenaikan itu telah disampaikan bank sentral Jepang sebelumnya, dengan mempertimbangkan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi dan konsumsi domestik yang masih solid.
Menurut analis Bank of America (BofA), keputusan kenaikan suku bunga tersebut telah banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar. Kini, fokus investor beralih pada arah kebijakan dan panduan yang akan disampaikan BoJ untuk beberapa kuartal mendatang. Kekhawatiran terhadap inflasi yang terus meningkat serta pelemahan yen yang berkepanjangan diperkirakan akan mendorong bank sentral Jepang mempertahankan nada kebijakan yang cenderung hawkish.
Sementara itu, Bursa Korea Selatan tampil sebagai yang terbaik di kawasan. Indeks KOSPI mencatat kenaikan 1,5 persen, ditopang oleh reli berkelanjutan saham teknologi dan produsen chip yang mengikuti kinerja positif sektor serupa di Amerika Serikat. Di sisi lain, bursa Hong Kong dan China justru tertinggal setelah serangkaian data ekonomi Negeri Tirai Bambu menunjukkan pelemahan aktivitas domestik.
Indeks ASX 200 Australia turun 0,4 persen akibat tekanan pada saham sektor perbankan dan pertambangan. Investor juga menanti keputusan RBA yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif 75 basis poin sepanjang tahun ini. Pada pertemuan terakhirnya, RBA mengindikasikan akan mengambil jeda untuk mengevaluasi dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian. Namun, jika tekanan inflasi di Australia masih bertahan tinggi, peluang pengetatan moneter tambahan tetap terbuka.
Di kawasan Asia Utara, pasar saham China bergerak datar. Indeks CSI 300 dan Shanghai Composite gagal melanjutkan penguatan setelah data ekonomi Mei menunjukkan penjualan ritel dan investasi aset tetap menyusut lebih dalam dari perkiraan pasar. Bahkan, investasi aset tetap tercatat pada level terlemah sejak krisis pandemi Covid-19. Tekanan terbesar di kawasan dialami indeks Hang Seng Hong Kong yang merosot lebih dari 1 persen akibat aksi jual pada saham-saham internet dan teknologi.
Di luar itu, mayoritas pasar Asia lainnya bergerak positif meski terbatas setelah mencatat kenaikan signifikan pada sesi sebelumnya. Indeks Straits Times Singapura naik 0,2 persen, sementara kontrak berjangka indeks Nifty 50 India menguat tipis 0,1 persen.
Artikel Terkait
RUPST Benteng Api Technic Setujui Dividen Tunai Rp5,95 Miliar atau Rp2 per Saham
Phapros Bagikan Dividen Rp4,21 Miliar, Setara Rp5,01 per Saham
Laba Bersih BTN Melonjak 54,37 Persen hingga Mei 2026, Tembus Rp1,85 Triliun
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.704 per Dolar AS di Tengah Pergerakan Mata Uang Asia yang Beragam