Prospek Industri Rumah Sakit 2026 Cerah, Bahana Sekuritas Naikkan Rekomendasi ke Overweight

- Selasa, 09 Juni 2026 | 07:15 WIB
Prospek Industri Rumah Sakit 2026 Cerah, Bahana Sekuritas Naikkan Rekomendasi ke Overweight

Prospek industri rumah sakit di Indonesia pada 2026 dinilai masih cerah, didorong oleh peningkatan jumlah pasien, kompleksitas kasus medis yang semakin tinggi, serta perluasan layanan unggulan atau Center of Excellence (CoE) yang gencar dilakukan operator rumah sakit swasta. Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi, dalam riset yang terbit pada 5 Juni 2026, menilai bahwa meningkatnya kompleksitas layanan kesehatan menjadi faktor kunci yang mendorong pertumbuhan pendapatan sektor ini.

Di sisi lain, kontribusi pasien swasta terus meningkat dan mulai mengimbangi tekanan yang masih muncul dari kebijakan rujukan BPJS. Kondisi industri asuransi kesehatan juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio klaim perusahaan asuransi besar tercatat turun menjadi sekitar 74 persen pada 2026, dibandingkan 76 persen pada tahun sebelumnya. Penerapan skema co-payment dinilai berpotensi memperluas penetrasi asuransi kesehatan swasta sekaligus mendukung keberlanjutan industri dalam jangka panjang.

Bahana Sekuritas memperkirakan pendapatan emiten rumah sakit tumbuh sekitar 10 persen pada 2026, sementara EBITDA diproyeksikan meningkat 9 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan volume pasien dan peningkatan intensitas pendapatan per pasien. Kinerja awal tahun pun tercatat solid. Pada kuartal I-2026, seluruh operator rumah sakit besar mencatat pertumbuhan pendapatan positif. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) membukukan pertumbuhan tertinggi sebesar 8 persen, disusul PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) sebesar 7 persen, dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) sebesar 5 persen.

HEAL mencatat pertumbuhan volume pasien paling tinggi, didukung ekspansi jaringan rumah sakit dan peningkatan rujukan BPJS. Sementara itu, MIKA mencatat pertumbuhan pendapatan per pasien yang lebih kuat berkat meningkatnya porsi kasus medis kompleks yang ditangani. Memasuki kuartal II-2026, Bahana memperkirakan tren jumlah pasien masih relatif stabil meskipun terdapat banyak hari libur. Peningkatan pendapatan per pasien diperkirakan tetap berlanjut di MIKA dan SILO seiring semakin dalamnya penetrasi layanan CoE.

Dari sisi regulasi, Bahana menilai perubahan kebijakan pemerintah tidak akan memberikan gangguan berarti terhadap sektor kesehatan. Beberapa kebijakan baru justru dinilai dapat mendorong adopsi layanan kesehatan yang lebih maju di Indonesia. Meski demikian, risiko tetap perlu dicermati. Kenaikan harga alat kesehatan, termasuk jarum suntik yang meningkat lebih dari 10 persen, serta kenaikan biaya obat-obatan di atas 5 persen, berpotensi menekan margin operasional, terutama pada segmen pasien BPJS.

Dengan prospek pertumbuhan yang tetap terjaga dan risiko regulasi yang relatif terbatas, Bahana Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor kesehatan menjadi overweight dari sebelumnya netral.

“Risiko relatif terbatas di tengah valuasi yang sudah terdiskon dalam,” tulis Bahana dalam risetnya.

Bahana tetap menjagokan MIKA sebagai pilihan utama berkat potensi pertumbuhan dari transformasi CoE dan pembukaan rumah sakit baru di BSD serta Malang. Selain itu, Bahana juga menaikkan rekomendasi HEAL menjadi buy dari sebelumnya hold.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar