PT Singaraja Putra Tbk (SINI) bersiap menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu, atau yang dikenal sebagai rights issue, guna mendanai ekspansi sekaligus memperkuat struktur keuangan perseroan. Langkah ini diambil di tengah upaya perusahaan untuk memperluas cengkeraman bisnis di sektor pertambangan batu bara.
Berdasarkan prospektus ringkas yang diterbitkan pada 21 April 2026, perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per lembar. Setiap saham baru yang diterbitkan akan memiliki hak yang setara dengan saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk hak suara dan hak atas dividen.
Dana yang dihimpun dari rights issue akan dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan strategis. Salah satu yang utama adalah rencana pengambilalihan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), pelunasan lebih awal kewajiban kepada kreditur, serta tambahan modal kerja. Perseroan menargetkan untuk mengakuisisi 507.380.875 saham KMS milik PT Petrosea Tbk (PTRO), yang setara dengan 99,995 persen modal ditempatkan dan disetor KMS. Nilai transaksi ini mencapai Rp1,73 triliun, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi perseroan per 31 Desember 2025.
Nilai transaksi tersebut tergolong material karena melampaui 25 persen dari total aset perseroan. Oleh karena itu, SINI wajib menggunakan jasa penilai independen untuk menentukan nilai wajar objek transaksi sekaligus menilai kewajaran aksi korporasi ini.
Di sisi lain, sebagian dana rights issue juga akan digunakan untuk melunasi kewajiban senilai total Rp900 miliar yang berasal dari tiga fasilitas pinjaman bank terpisah, masing-masing bernilai Rp300 miliar. Rinciannya, fasilitas kredit pertama dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) akan jatuh tempo pada 14 Agustus 2026, sementara fasilitas kedua dari bank yang sama jatuh tempo pada 12 September 2026. Adapun fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dijadwalkan jatuh tempo pada 21 September 2026.
Manajemen perseroan telah menyampaikan surat resmi kepada Bank Mandiri pada 22 Mei 2026 terkait rencana pelunasan lebih awal atas kewajiban senilai Rp300 miliar tersebut. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Perseroan menjelaskan, rencana pengambilalihan KMS sejalan dengan strategi peningkatan investasi. KMS diketahui memiliki pengendalian atas entitas anak yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, sehingga langkah ini berpotensi memperluas cakupan bisnis SINI di sektor tersebut. Manajemen menilai aksi ini dapat mendukung pengembangan usaha dan diharapkan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Adapun seluruh rencana rights issue dan transaksi pengambilalihan tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Mei 2026.
Artikel Terkait
Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp17.944 Usai BI Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Kembali Memanas
IHSG Melonjak 3,14 Persen, Saham Bank dan Konglomerasi Dorong Rebound
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan