Harga Emas Diprediksi Tembus Rp2,9 Juta per Gram Jika Ketegangan Geopolitik Global Berlanjut

- Minggu, 10 Mei 2026 | 15:30 WIB
Harga Emas Diprediksi Tembus Rp2,9 Juta per Gram Jika Ketegangan Geopolitik Global Berlanjut

Harga emas dunia dan logam mulia domestik diprediksi akan bergerak fluktuatif pada pekan mendatang, dengan potensi mencetak rekor tertinggi baru jika ketegangan geopolitik global terus meningkat. Logam mulia produksi Antam disebut memiliki peluang besar untuk menyentuh level Rp2.900.000 per gram, didorong oleh eskalasi konflik di sejumlah kawasan strategis dunia.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa pergerakan harga emas sangat bergantung pada dinamika yang terjadi di Timur Tengah dan Eropa Timur. Meskipun terdapat upaya mediasi, ancaman serangan besar-besaran Rusia ke Ukraina serta gesekan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz tetap menjadi motor utama penguatan harga emas sebagai aset aman atau safe haven.

“Kalau seandainya menguat, resisten kedua itu di 4.851 dolar per troy ounce. Logam mulianya kemungkinan besar akan mencapai Rp2.900.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (10/5/2026).

Ibrahim mencatat adanya selisih harga yang cukup lebar antara titik terendah dan tertinggi untuk pekan depan, yakni sekitar Rp150.000 per gram. Jika terjadi koreksi atau pelemahan, harga logam mulia diperkirakan masih tertahan di level minimal Rp2.750.000 per gram. Sementara itu, indeks dolar AS diprediksi menguat ke level 100.600 dan harga minyak mentah WTI berpotensi kembali melonjak ke 113 dolar AS per barel.

Kombinasi penguatan dolar dan kenaikan harga minyak biasanya menekan nilai tukar rupiah. Namun, bagi pemegang emas, situasi ini justru dapat mendorong harga domestik naik lebih tinggi. Faktor geopolitik menjadi krusial dalam skenario ini. Ibrahim menyoroti “perang saraf” di Laut Oman, di mana Iran disebut menggunakan tanker kosong untuk mengelabui militer AS.

Meskipun terjadi baku tembak antara kapal perusak AS dan Iran, Ibrahim menilai Presiden Donald Trump masih berupaya menahan diri demi kepentingan politik domestik. “Kalau seandainya terjadi perang, ini hanya soal strategi dan kehati-hatian politik Amerika terhadap Iran. Ini bahasa yang menurut saya bersifat sindiran dan membuat ketegangan kembali mereda,” katanya.

Namun, harapan de-eskalasi kini bergantung pada nota kesepahaman 14 poin yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Jika kesepakatan ini gagal, inflasi global diperkirakan meningkat akibat gangguan jalur maritim di Selat Hormuz. Kondisi itu akan memaksa bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi. Di sisi lain, penguatan indeks dolar juga didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada April yang solid, sehingga Ketua The Fed, Kevin Walsh, cenderung mempertahankan suku bunga.

Satu faktor fundamental yang menjaga harga emas tetap tinggi adalah aksi pembelian oleh bank sentral global, terutama Tiongkok. “Bank Sentral Tiongkok memperkuat cadangan devisa nasionalnya. Pada kuartal pertama, mereka melakukan pembelian sebanyak 7,15 ton. Dengan tambahan tersebut, Tiongkok masuk lima besar negara dengan cadangan emas terbesar di dunia, yaitu 2.313,48 ton,” jelas Ibrahim.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar