Laba Bersih Indocement Naik 12% Didorong Keuntungan Divestasi

- Minggu, 05 April 2026 | 15:25 WIB
Laba Bersih Indocement Naik 12% Didorong Keuntungan Divestasi

Laporan keuangan Indocement untuk tahun 2025 menunjukkan sebuah dinamika yang menarik. Di satu sisi, raksasa semen ini berhasil membukukan laba bersih yang tumbuh 12 persen, menjadi Rp2,2 triliun. Angka ini naik dari posisi Rp2 triliun di tahun sebelumnya. Namun begitu, kisah di balik angka kenaikan itu tak sepenuhnya mulus.

Pendapatan perusahaan justru mengalami penyusutan. Tercatat, pendapatan turun 4,4 persen menjadi Rp17,7 triliun, dari sebelumnya Rp18,5 triliun. Penurunan ini berjalan beriringan dengan merosotnya laba bruto sebesar 4,79 persen, menjadi Rp5,77 triliun.

Lalu, dari mana kenaikan laba bersih itu datang? Rupanya, ada faktor pendongkrak yang cukup signifikan. Capaian laba tersebut banyak ditopang oleh keuntungan dari proses divestasi. Perseroan melakukan penjualan 60 persen saham di PT Mortar Prakarsa Utama, yang bernilai sekitar Rp670 miliar, pada kuartal akhir 2025. Transaksi ini memberikan suntikan yang cukup berarti di tengah kondisi operasional yang sedang tidak mudah.

Melihat lebih detail, beban pokok pendapatan memang menciut ke angka Rp11,96 triliun. Biaya keuangan juga turun, berada di posisi Rp172,53 miliar. Sayangnya, bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi ikut tergerus, hanya mencapai Rp36,95 miliar.

Di sisi lain, kondisi neraca perusahaan relatif stabil. Hingga akhir Desember 2025, total aset INTP naik tipis menjadi Rp31,72 triliun. Jumlah liabilitasnya tercatat Rp8,52 triliun, sementara ekuitas yang dimiliki perseroan berada di level Rp23,2 triliun.

Secara keseluruhan, laporan ini menggambarkan sebuah tahun di mana kinerja operasional menghadapi tekanan, tetapi langkah strategis korporasi berhasil menjaga pertumbuhan laba. Sebuah pencapaian yang patut dicatat, meski dengan catatan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar