Goldman Sachs Pertahankan Target Harga Emas USD 5.400 per Troy Ounce pada 2026

- Minggu, 05 April 2026 | 08:20 WIB
Goldman Sachs Pertahankan Target Harga Emas USD 5.400 per Troy Ounce pada 2026

Goldman Sachs ternyata masih ngotot dengan prediksinya soal emas. Meski harga logam kuning sempat anjlok belakangan ini, raksasa keuangan itu tetap mempertahankan target harga emas di angka USD 5.400 per troy ounce untuk akhir tahun 2026. Ya, angka yang cukup fantastis itu masih dipegang teguh.

Lalu, apa yang jadi alasan mereka? Ternyata, analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, punya keyakinan kuat. Mereka melihat prospek penurunan suku bunga The Fed, posisi spekulatif yang akan normal, dan yang tak kalah penting: bank-bank sentral di berbagai negara masih akan terus membeli emas. Faktor-faktor inilah yang diyakini bakal mendongkrak harga.

Padahal, kalau kita lihat fakta di lapangan, situasinya tidak begitu cerah. Sejak konflik di Timur Tengah memanas, harga emas batangan justru terpangkas sekitar 15 persen, nyaris menyentuh level USD 4.580. Tapi bagi Thomas dan Struyven, penurunan ini wajar dan bisa dijelaskan.

Mereka mengaitkan pelemahan itu dengan karakter konflik yang terjadi. Perang telah memicu gangguan pasokan energi, yang ujung-ujungnya bikin khawatir soal inflasi. Kekhawatiran ini lalu membuat pasar memprediksi The Fed akan memotong suku bunga tahun ini. Nah, dalam situasi seperti ini, emas punya pola tersendiri.

“Emas berperilaku berbeda tergantung pada jenis guncangan inflasi,” begitu penjelasan kedua analis tersebut.

Menurut mereka, dalam kondisi stagflasi yang dipicu masalah pasokan seperti yang terjadi sekarang komoditas secara historis lebih diuntungkan ketimbang emas. Logam mulia ini justru bersinar maksimal ketika ancaman datang dari hal lain, misalnya keraguan publik terhadap kemampuan bank sentral mengendalikan harga.

Di sisi lain, ada juga isu yang beredar soal bank sentral yang mulai jual emas. Kabarnya, Turki telah melepas sekitar 52 ton. Apakah negara-negara Teluk akan ikut-ikutan? Thomas dan Struyven meragukannya.

Mereka menepis kekhawatiran itu. Cadangan emas negara Teluk proporsinya jauh lebih kecil, dan sistem mata uang mereka umumnya dipatok ke dolar. Jadi, kalau pun butuh likuiditas, kemungkinan besar mereka akan jual obligasi pemerintah AS, bukan emasnya.

Namun begitu, bukan berarti perjalanan menuju USD 5.400 itu mulus. Masih ada risiko yang mengintai. Para analis itu sendiri memberi peringatan: jika gangguan di Selat Hormuz berlarut-larut dan pasar saham terus melemah, harga emas bisa terperosok hingga USD 3.800 dalam skenario terburuk.

Tapi sebaliknya, ada juga potensi untuk melambung lebih tinggi. Ketegangan geopolitik termasuk perkembangan di Greenland dan Venezuela bisa memicu akselerasi diversifikasi aset dari instrumen Barat. Kalau ini terjadi, harga bisa melesat mendekati USD 5.700, bahkan mungkin menyentuh USD 6.100.

Jadi, meski pasar tampak lesu sekarang, Goldman Sachs tetap melihat cahaya di ujung terowongan. Mereka yakin faktor fundamental akan berbicara pada waktunya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar