Rupiah Melemah 0,30% dalam Sepekan, Tertekan Sinyal Hawkish The Fed

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:50 WIB
Rupiah Melemah 0,30% dalam Sepekan, Tertekan Sinyal Hawkish The Fed

Nilai tukar rupiah tercatat melemah dalam sepekan terakhir. Pelemahan itu mencapai 0,30 persen, dan situasinya cukup jelas: pasar masih waswas dengan kebijakan suku bunga The Fed dan juga kesepakatan tarif yang baru saja dibuat Amerika Serikat.

Kalau lihat data Bloomberg, pada Jumat (20/2/2026) rupiah di pasar spot sebenarnya sedikit menguat 0,04 persen secara harian, ditutup di level Rp16.888 per dolar AS. Tapi, posisi ini tetap lebih rendah ketimbang penutupan Jumat sebelumnya, 13 Februari, yang berada di Rp16.836. Jadi, penguatan harian itu tak cukup untuk menutup kerugian sepekan.

Bank Indonesia lewat kurs referensi Jisdor juga mencatat hal serupa. Meski menguat 0,23 persen harian ke Rp16.885 per USD, secara mingguan mata uang kita tetap terpangkas 0,24 persen.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, punya penjelasannya. Menurut dia, tekanan terhadap rupiah sepanjang minggu ini banyak dipicu oleh risalah rapat FOMC The Fed bulan Januari yang bernada hawkish.

"Risalah tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi. Hal itu membuat Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil, menekan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil,"

Ibrahim menulis analisis itu dalam risetnya yang dirilis Sabtu (21/2/2026).

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih baik dari perkiraan ikut memperkuat dolar. Kombinasi ini, jadinya, memberikan tekanan ekstra bagi mata uang negara berkembang tak terkecuali Indonesia.

Nah, dari dalam negeri sendiri sebenarnya ada kabar positif. Perhatian pelaku pasar sempat tertuju pada kesepakatan perdagangan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen bertajuk "Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance" itu disepakati di Washington DC, Jumat lalu.

Namun begitu, sentimen positif itu tampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal. Penguatan dolar AS diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah di perdagangan mendatang. Analis memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup sempit, sekitar Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.

(DESI ANGRIANI)

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar