Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih baik dari perkiraan ikut memperkuat dolar. Kombinasi ini, jadinya, memberikan tekanan ekstra bagi mata uang negara berkembang tak terkecuali Indonesia.
Nah, dari dalam negeri sendiri sebenarnya ada kabar positif. Perhatian pelaku pasar sempat tertuju pada kesepakatan perdagangan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen bertajuk "Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance" itu disepakati di Washington DC, Jumat lalu.
Namun begitu, sentimen positif itu tampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal. Penguatan dolar AS diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah di perdagangan mendatang. Analis memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup sempit, sekitar Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok