Pariwisata Indonesia Cetak Rekor Kunjungan Tertinggi dalam Enam Tahun

- Senin, 02 Februari 2026 | 16:48 WIB
Pariwisata Indonesia Cetak Rekor Kunjungan Tertinggi dalam Enam Tahun

Pemulihan sektor pariwisata Indonesia di tahun 2025 ternyata tak main-main. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren yang kian solid, didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara dan pergerakan wisatawan domestik yang tak kalah hidup. Tak cuma itu, tingkat hunian hotel dan aktivitas transportasi pun ikut merasakan dampak positifnya.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Desember 2025 menjadi bulan yang cukup menggembirakan. Kunjungan wisman lewat pintu masuk utama udara, laut, dan darat menyentuh angka 1,12 juta lebih. Sementara itu, yang masuk lewat perbatasan darat dan laut menambah sekitar 182 ribu kunjungan.

“Kalau dijumlahkan, totalnya mencapai 1,41 juta kunjungan di bulan Desember saja,” jelas Ateng dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Senin (2/2).

Angka itu bukan cuma bagus, tapi meningkat signifikan. Dibanding November, naik 17,25 persen. Sementara dibanding Desember tahun sebelumnya, pertumbuhannya mencapai 14,43 persen.

Secara keseluruhan, sepanjang 2025, kunjungan wisman menembus 15,39 juta. Itu artinya tumbuh 10,8 persen dari tahun 2024. Dan yang menarik, ini jadi pencapaian tertinggi dalam enam tahun terakhir.

“Ini rekor baru untuk periode enam tahun ke belakang,” tegas Ateng.

Dari mana saja mereka datang? Ternyata masih didominasi negara tetangga dan kawasan Asia Pasifik. Peringkat teratas dipegang Malaysia dengan porsi 17,3 persen, disusul Singapura (14,5 persen), dan Australia (11 persen). Dibanding bulan atau tahun sebelumnya, ketiganya sama-sama mencatatkan peningkatan.

Soal pintu masuk, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali masih jadi favorit. Tak heran, wisatawan asal Australia masih paling banyak yang mendarat di sini, membuktikan daya pikat Pulau Dewata yang belum pudar.

Wisnus Juga Tak Kalah Bergairah

Di sisi lain, pergerakan wisatawan Nusantara alias wisnus ternyata jadi penopang utama yang luar biasa. Desember lalu, perjalanan wisnus mencapai hampir 106 juta. Angka itu naik hampir 10 persen dari bulan sebelumnya, dan sekitar 4,8 persen dari Desember 2024.

Kalau dilihat setahun penuh, pergerakannya fantastis: sekitar 1,2 miliar perjalanan! Itu artinya melonjak 17,55 persen dari 2024, dan bahkan jauh melampaui kondisi sebelum pandemi di tahun 2019 yang ‘hanya’ 722 juta. Mobilitas yang besar ini jelas menghidupkan ekonomi daerah tujuan, dari sewa mobil, penginapan, sampai kuliner.

Hotel Mulai Ramai Lagi

Efek domino dari ramainya pariwisata langsung terasa di sektor akomodasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang secara nasional di Desember mencapai 56,12 persen. Naik 2,23 poin dari bulan sebelumnya, meski secara tahunan masih sedikit turun.

Daerah Istimewa Yogyakarta memimpin dengan TPK tertinggi, yakni 66,38 persen. Ateng menduga, ini erat kaitannya dengan momen libur akhir tahun yang padat acara.

“Diduga karena liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru, plus ada beberapa event seperti konser dan festival budaya,” ujarnya.

Secara umum, permintaan untuk hotel berbintang masih lebih tinggi dibanding nonbintang di hampir semua provinsi. Artinya, minat terhadap akomodasi formal tetap kuat.

Transportasi Ikut Merasakan Dampaknya

Sejalan dengan itu, moda transportasi penumpang juga semakin sibuk. Desember 2025 mencatat peningkatan jumlah penumpang di semua moda, didorong libur Natal-Tahun Baru dan program diskon tiket dari pemerintah.

Sepanjang tahun 2025, hampir semua jenis angkutan tumbuh. Yang paling tinggi pertumbuhannya justru angkutan laut domestik, naik 10,56 persen secara tahunan.

Penerbangan internasional juga ikut naik 8,14 persen, dari 19 juta penumpang di 2024 menjadi 20,55 juta di 2025. Kereta api tak ketinggalan, dengan kenaikan 8,8 persen menjadi hampir 550 juta penumpang. Angkutan penyeberangan ASDP pun tumbuh 12,02 persen. Semua angka ini menggambarkan satu hal: mobilitas masyarakat sudah kembali bergeliat, bahkan mungkin lebih hidup dari sebelumnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler