Pekan ini, IHSG benar-benar terkapar. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 8.329,606, anjlok tajam dari posisi pekan lalu yang masih bertahan di 8.951,010. Tekanan jual yang masif membuatnya terpangkas hampir 7 poin.
Nah, menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi dan komoditas, situasi ini belum akan membaik. Sentimen buruk masih mengintai, terutama setelah Goldman Sachs Group Inc. mengambil langkah drastis. Mereka memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
"Perdagangan saham hari Senin kemungkinan IHSG di-suspend kembali karena turun 8 persen akibat Goldman Sachs menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight,"
Ujarnya lewat pernyataan tertulis di akhir pekan, Sabtu (31/1/2026).
Ibrahim khawatir, langkah Goldman Sachs ini akan memicu gelombang baru. Dana asing yang selama ini menetap di pasar saham kita bisa-bisa ditarik lagi oleh para investor. Alhasil, koreksi terhadap IHSG diprediksi masih akan berlanjut sepanjang pekan depan.
"Sama seperti MSCI, tinggal tunggu JP Morgan saja. Diperkirakan investor asing akan melakukan aksi jual,"
tambahnya. Ancaman itu nyata dan menggelayut di atas kepala pasar.
Lalu, apa yang sebenarnya memicu Goldman Sachs bertindak? Rupanya, ini berawal dari kekhawatiran MSCI. Lembaga rating global itu mengancam akan menurunkan status pasar modal Indonesia, dari emerging market menjadi frontier market. Bayang-bayang ancaman itu saja sudah cukup membuat kapok. Dana asing pun kabur, dengan nilai fantastis: lebih dari 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 217 triliun menguap dari pasar.
Dalam laporannya, para analis Goldman Sachs termasuk Timothy Moe menulis dengan nada pesimistis.
"Kami memperkirakan penjualan pasif masih berlanjut dan menilai perkembangan ini menjadi beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,"
Begitu bunyi kutipan laporan mereka. Situasinya memang rumit.
Bayangkan, potensi penurunan status pasar ditambah tekanan jual yang makin menjadi. Kombinasi mematikan ini akan menyedot likuiditas, membuat pasar terasa kering. Investor jangka panjang pun kemungkinan akan dipaksa menata ulang portofolio mereka. Tak hanya itu, kondisi seperti ini justru bisa mengundang hedge fund untuk berspekulasi, menambah gejolak yang sudah ada. Pekan depan, bursa kita tampaknya masih harus bergulat dengan badai.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020