Pasar Modal Bergejolak Usai Mundurnya Petinggi BEI dan OJK

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:00 WIB
Pasar Modal Bergejolak Usai Mundurnya Petinggi BEI dan OJK

Pasar saham kita diprediksi bakal bergerak naik-turun dengan cukup aktif pekan depan. Ini terjadi setelah mundurnya Dirut BEI Iman Rachman dan sejumlah petinggi OJK, yang tentu saja menciptakan suasana tidak pasti di kalangan investor.

Menurut Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor, situasi ini akan jadi perhatian serius bagi investor institusi dan asing. Mereka akan mencermati betul sentimen dari pengunduran diri ini, plus dinamika pasar yang ada.

"Dalam kondisi kayak gini, pasar biasanya akan menguji area support terdekat dulu buat cari keseimbangan baru," ujar Hendra, dihubungi Sabtu (31/1/2026).

Dia memaparkan, secara teknikal, IHSG berpeluang menguji support di kisaran 8.200 sampai 8.220. Sementara itu, untuk jangka pendek, resistance ada di sekitar level 8.500.

Hendra menekankan satu hal penting: selama indeks bisa bertahan di atas support 8.200-8.220, maka pelemahan yang terjadi ini cuma koreksi teknikal belaka. Bukan sinyal untuk pelemahan yang lebih dalam dan berstruktur.

"Kekhawatiran soal trading halt juga nggak perlu dibesar-besarkan," tuturnya.

Menurut dia, trading halt biasanya terjadi kalau tekanan jual sudah panik dan masif banget. Sementara kondisi IHSG sekarang ini lebih ke arah penyesuaian biasa pasca guncangan sentimen.

Dia bahkan masih melihat adanya minat beli, meski sifatnya selektif, terutama buat saham-saham yang fundamentalnya kuat. Ini pertanda bagus, bahwa pasar sebenarnya belum kehilangan kepercayaan secara total.

"Selama nggak ada sentimen negatif baru yang ekstrem, risiko halt masih kecil," katanya meyakinkan.

Di sisi lain, faktor eksternal juga perlu diwaspadai. Pelemahan harga emas dunia yang cukup tajam, sekitar 11,05 persen ke level 4.763 per troy ounce, berpotensi jadi beban buat IHSG dalam jangka pendek.

Tekanan ini paling bakal kerasa di saham-saham emas kayak ANTM, MDKA, HRTA, ARCI, dan BRMS. Performa mereka kan sangat tergantung sama gerak-gerik harga logam mulia global.

"Aksi ambil untung dan penyesuaian valuasi di saham-saham itu bisa bikin sektor emas jadi pemberat indeks dalam waktu dekat," jelas Hendra.

Tapi nggak semuanya suram. Ada juga rotasi dana yang terlihat ke saham-saham yang sebelumnya tertekan cukup dalam. Beberapa blue chip di sektor konsumsi, contohnya INDF, ICBP, dan UNVR, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan untuk jangka pendek.

"Karakter defensif dan valuasi yang udah murah bikin sektor ini dilirik lagi sama investor. Jadi semacam penyangga portofolio di tengah pasar yang bergejolak," tuturnya.

Perhatian juga tertuju ke sektor perbankan. Beberapa saham besar seperti BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI mulai kedatangan minat beli lagi, menunjukkan ada perlawanan dari sisi permintaan.

Secara fundamental, kata Hendra, kondisi perbankan nasional masih solid. Permodalan dan likuiditasnya kuat. Tekanan harga yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen dan arus dana jangka pendek, bukan karena kinerja bisnis intinya yang memburuk.

Jadi, apa yang harus dilakukan investor di tengah situasi seperti ini? Hendra menyarankan untuk tetap tenang, selektif, dan fokus pada saham berfundamental kuat. Kunci utamanya ada pada komunikasi.

Jika proses transisi kepemimpinan di regulator dan arah kebijakan ke depan bisa dikomunikasikan dengan jelas dan meyakinkan, tekanan psikologis di pasar pelan-pelan akan mereda.

"Koreksi yang terjadi sekarang justru bisa jadi bagian dari proses menuju pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan," pungkas Hendra.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler