Pasar modal Indonesia bakal memasuki pekan yang cukup menarik. Pasalnya, pengunduran diri sejumlah pucuk pimpinan di OJK dan BEI diperkirakan bakal bikin pasar sedikit bergejolak di hari-hari awal perdagangan nanti. Meski begitu, gejolaknya disebut cuma sementara.
Reydi Octa, seorang pengamat pasar modal, ngelihat investor pasti akan bereaksi. "Di awal market mungkin ada sedikit tekanan jual, karena kelihatannya berturut-turut gitu," ujarnya saat dihubungi Jumat lalu.
Namun begitu, dia meyakini tekanan itu cuma bakal berlangsung singkat. Menurutnya, pasar kemudian akan masuk ke fase 'wait and see'.
"Tapi kalau saya rasa itu hanya jangka pendek. Pasti akan wait and see sih, menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengganti-penggantinya," tambah Reydi.
Di sisi lain, Reydi justru punya pandangan lain soal gelombang pengunduran diri ini. Dia memandangnya sebagai upaya penyegaran yang diperlukan. Apalagi, sentimen pasar lagi buruk belakangan ini gara-gara keputusan MSCI yang membekukan sementara rebalancing saham Indonesia. Hal itu bikin kepercayaan investor global terhadap transparansi IHSG jadi rentan.
"Menurut saya mungkin memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal," katanya. Dia menyinggung kejadian trading halt yang sempat terjadi dua hari berturut-turut. "Kepercayaan investor global juga mulai rentan mempertanyakan transparansi di IHSG. Jadi sepertinya kita perlu wajah baru yang ke-refresh."
Memang, pasar sempat anjlok tajam sampai memicu trading halt. Tapi Reydi bilang situasi ini nggak sedahsyat krisis di awal pandemi dulu. Kepanikan yang terjadi, menurut dia, lebih karena investor belum sepenuhnya mencerna maksud di balik langkah MSCI.
Dia malah ngasih sudut pandang yang positif. Langkah MSCI membekukan indeks itu bisa dilihat sebagai bentuk perlindungan. Tujuannya untuk mencegah capital outflow atau keluarnya dana asing secara masif kalau metodologi baru langsung diterapkan tanpa persiapan.
"Tujuannya baik MSCI seperti itu, karena kan berarti dana-dana asing itu nggak dipaksa keluar gitu," jelas Reydi. "Makanya MSCI bikin beku dulu supaya tidak terjadi penambahan atau pengurangan di IHSG. Jadi menunda atau paling nggak supaya tidak terjadi capital outflow dari asing."
Seperti diketahui, pengumuman pengunduran diri ini beruntun terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026. Dimulai dari Direktur Utama BEI, Iman Rachman, yang mundur setelah beberapa hari pasar bergejolak imbas pengumuman MSCI.
Tak lama berselang, OJK ikut mengumumkan. Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, dan Deputi Komisioner I B Aditya Jayaantara, menyusul untuk mengundurkan diri. Bahkan, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, juga menyatakan mundur. Semuanya terjadi dalam hari yang sama, bikin publik pasar modal terhenyak.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020