Pasar saham Indonesia kembali mendapat terpaan angin tidak menyenangkan. Kali ini, Goldman Sachs, raksasa investasi asal AS, secara resmi menurunkan peringkat saham kita menjadi underweight. Langkah ini bukan tanpa alasan. Mereka khawatir, isu kelayakan investasi atau investability yang sedang disorot oleh MSCI bisa memicu arus keluar modal yang sangat besar bahkan disebutkan bisa tembus lebih dari 13 miliar dolar AS.
“Kami memperkirakan tekanan jual pasif akan berlanjut,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya yang dirilis Kamis lalu.
“Kami memandang perkembangan ini sebagai faktor penghambat yang akan membebani kinerja pasar.”
Bukan cuma Goldman Sachs yang bersikap hati-hati. Para strategis UBS AG juga ikut bergerak, menurunkan rekomendasi untuk saham domestik menjadi netral. Suasana pesimis ini jelas terasa di lantai bursa. IHSG sempat terperosok hingga 10 persen pada hari sebelumnya, melanjutkan tren merah untuk hari kedua berturut-turut.
Inti masalahnya berpusat pada apa yang disebut free float. Singkatnya, ini soal jumlah saham yang benar-benar beredar dan bisa diperdagangkan publik. Menurut sejumlah pengamat, banyak perusahaan besar di Indonesia punya likuiditas rendah dan kepemilikannya terkonsentrasi di tangan segelintir orang saja. MSCI sendiri menyebut ada 'masalah fundamental kelayakan investasi' plus kekhawatiran akan upaya terkoordinasi yang mendistorsi harga.
Kekhawatiran Goldman cukup ekstrem. Mereka membuat skenario: bagaimana jika status Indonesia diturunkan dari pasar berkembang menjadi pasar frontier oleh MSCI? Hasilnya, dana pasif yang mengikuti indeks mereka bisa melepas saham senilai 7,8 miliar dolar AS. Belum lagi potensi arus keluar tambahan 5,6 miliar dolar AS jika FTSE Russell ikut-ikutan meninjau ulang metodologinya.
Di sisi lain, ada juga yang justru melihat peluang di balik awan gelap ini. Analis Citigroup Inc. menilai, pembekuan indeks oleh MSCI mungkin hanya bersifat sementara. Mereka malah melihat momen ini sebagai 'peluang beli' untuk saham-saham perbankan berkualitas, sektor telekomunikasi, dan emiten berbasis komoditas.
Namun begitu, tekanan dari potensi penurunan status ini bukan main-main. Apalagi, manajer dana aktif di kawasan saat ini kebanyakan justru overweight terhadap Indonesia. Kombinasi antara status yang terancam, tekanan pasar, dan likuiditas yang menipis, bisa memaksa investor jangka panjang untuk menyeimbangkan portofolio mereka. Tak menutup kemungkinan juga akan memicu aksi spekulatif dari hedge fund.
Semua ini berawal dari keputusan MSCI yang akan menangguhkan perubahan indeks termasuk penambahan saham baru sampai regulator kita menyelesaikan kekhawatiran mereka soal kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi.
UBS menambahkan faktor lain yang bikin investor waswas: risiko regulasi. Ini muncul setelah pernyataan Menkumham soal 28 perusahaan yang izin usahanya dicabut berpotensi dikelola oleh Danantara. Pemerintah memang sedang bersikap tegas, mencabut izin sejumlah perusahaan sumber daya alam, mengambil alih tambang nikel dan batu bara bernilai tinggi, serta mengonsolidasikan perkebunan sawit di bawah kendali negara.
“Kami menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan bertahan,” tulis analis UBS, Sunil Tirumalai dan tim.
“Sampai ada kejelasan terkait regulasi dan hasil peninjauan ulang dari MSCI.”
Jadi, jalan ke depan masih berliku. Semuanya kini bergantung pada bagaimana respons dan langkah konkret otoritas dalam memberi kejelasan kepada pasar global. Investor, sementara itu, hanya bisa menunggu dan mencermati setiap perkembangan.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020