Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Empat Bulan, Ketegangan Iran dan Dolar Melemah Jadi Pemicu

- Kamis, 29 Januari 2026 | 08:12 WIB
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Empat Bulan, Ketegangan Iran dan Dolar Melemah Jadi Pemicu

Rabu kemarin, pasar minyak dunia kembali memanas. Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, tepatnya sejak September tahun lalu. Pemicunya? Kombinasi dari dua hal: ketegangan geopolitik di Iran yang makin mencekam dan pelemahan nilai tukar dolar Amerika.

Minyak Brent, patokan global, ditutup menguat 1,23 persen ke posisi 68,40 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga naik 1,31 persen, menjadi 63,21 dolar AS. Angka-angka ini bukan kenaikan biasa. Secara bulanan, kedua patokan ini sedang mencatatkan lonjakan persentase terbesar sejak pertengahan 2023. Brent diproyeksi naik sekitar 12 persen, dan WTI menyusul dengan kenaikan 10 persen.

Pemicu utama jelas berasal dari Timur Tengah. Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, mendesak mereka berunding soal nuklir. Ancaman balasan dari Iran pun tak kalah keras: mereka akan membalas dengan cara yang "belum pernah terjadi sebelumnya". Situasi ini makin tegang dengan kedatangan armada kapal induk AS di kawasan tersebut awal pekan ini.

Namun begitu, ada juga faktor lain yang berperan. Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, melihat dinamika pasar yang kompleks.

"Pasar naik karena kekhawatiran tentang armada AS, tetapi kemudian turun karena kemungkinan perdamaian antara Rusia dan Ukraina," ujarnya.

Ya, kabar tentang rencana negosiasi trilateral Rusia, Ukraina, dan AS di Abu Dhabi awal Februari juga ikut mempengaruhi sentimen, meski efeknya tak bertahan lama.

Di sisi lain, data pasokan dari dalam negeri AS justru memberikan dukungan kuat. Laporan Badan Informasi Energi (EIA) mengejutkan banyak analis. Alih-alih naik seperti yang diperkirakan, persediaan minyak mentah AS justru turun 2,3 juta barel. Penurunan ini didorong oleh ekspor yang kuat dan impor yang lebih rendah.

Giovanni Staunovo, analis UBS, berkomentar soal laporan ini.

"Laporan yang solid. Ekspor minyak mentah yang kuat dan impor yang lebih rendah membantu menghasilkan penurunan minyak mentah lainnya. Laporan selanjutnya akan lebih menarik, untuk melihat dampak cuaca dingin pada data tersebut," katanya.

Cuaca dingin itu sendiri memang telah mengacaukan produksi. Badai musim dingin yang menerjang AS memaksa penutupan sumur-sumur minyak, memangkas produksi domestik sekitar 600.000 barel per hari. Gangguan produksi juga terjadi di Kazakhstan, meskipun negara anggota OPEC itu berharap produksi di Lapangan Tengiz bisa pulih dalam seminggu. Beberapa sumber meragukannya, mereka bilang pemulihan bisa butuh waktu lebih lama.

Faktor terakhir yang mendongkrak harga adalah melemahnya dolar AS. Dolar yang melemah ke level terendah empat tahun terhadap sejumlah mata uang utama membuat minyak yang harganya ditetapkan dalam dolar jadi lebih terjangkau bagi pembeli dengan mata uang lain. Ini mendorong permintaan.

Sementara itu, Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga pada Rabu. Bank sentral AS itu menyoroti inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang solid, tanpa memberikan sinyal jelas kapan pemotongan suku bunga akan dimulai. Keputusan ini turut mempengaruhi dinamika nilai tukar dan, pada akhirnya, harga komoditas seperti minyak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler