Di tengah kilang Balikpapan yang megah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan target ambisius pemerintah. Mulai tahun ini, impor solar akan dihentikan. Tak berhenti di situ, impor avtur alias bahan bakar pesawat pun ditargetkan berakhir pada 2027.
"Sementara untuk solar, tahun ini Alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maka mulai yang sekarang kita bicara ini, tidak ada lagi impor solar untuk insyaallah ke depan,"
Ucap Bahlil tegas dalam peresmian proyek RDMP Balikpapan, Senin lalu. Pernyataannya langsung menyita perhatian.
Lalu, bagaimana caranya? Bahlil membeberkan sejumlah angka. Kebutuhan solar nasional ternyata mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Namun, program biodiesel B40 dan B60 sudah membantu menopang kebutuhan itu. Belum lagi ada tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter. Alhasil, sisa impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter kini disebut sudah tertutupi. Malah muncul surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk jenis C48. Untuk solar jenis C51, impor yang tersisa tinggal 600 ribu kiloliter saja.
"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi),"
lanjutnya.
Proyek RDMP yang baru diresmikan ini jadi kunci utama. Kapasitas produksi bakal ditingkatkan untuk berbagai jenis BBM, mulai dari RON 92, 95, hingga 98. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan dalam negeri dari produksi sendiri. Ketergantungan pada impor harus diputus.
"Itu supaya kita tidak impor lagi. Supaya badan-badan usaha swasta ini beli produksi dalam negeri lewat Pertamina,"
jelas Bahlil.
Ia pun menegaskan, langkah ini bukan sekadar kebijakan teknis. Ini soal amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 menggariskan cabang produksi penting harus dikuasai negara. Dan negara, melalui proyek seperti ini, sedang berusaha memenuhi amanat itu.
"Perintah Pasal 33 adalah cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat orang banyak harus dikuasai oleh negara. Dan oleh karena itu negara harus menyiapkan,"
tegasnya.
Setelah solar, giliran avtur. Target 2027, kata Bahlil, impor bahan bakar pesawat itu harus sudah berakhir. Visi jangka panjangnya, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah. Seluruh proses pengolahan dan pemenuhan kebutuhan dilakukan di dalam negeri.
"Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis,"
tuturnya.
Proyek yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto ini memang bukan main-main. Investasinya mencapai USD 7,4 miliar, atau setara Rp 123 triliun. Sebuah angka fantastis.
Dampaknya langsung terlihat. Kilang Balikpapan milik Pertamina kini resmi menjadi yang terbesar di Indonesia. Kapasitas pengolahannya melonjak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Sebuah lompatan yang signifikan.
"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia, sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa,"
kata Prabowo dalam sambutannya.
Suasana di Balikpapan hari itu penuh harap. Sebuah langkah besar menuju kemandirian energi, atau setidaknya, begitulah yang dijanjikan.
Artikel Terkait
Kemenkeu Juarai Turnamen Catur Antar-Emiten dan Kementerian di BEI
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen