Wall Street Cetak Rekor, Saham Chip dan Moderna Melonjak Didorong Optimisme AI

- Rabu, 07 Januari 2026 | 06:36 WIB
Wall Street Cetak Rekor, Saham Chip dan Moderna Melonjak Didorong Optimisme AI

Wall Street kembali menunjukkan taringnya. Pada Selasa (6/1) lalu, bursa saham AS ditutup dengan catatan hijau yang cukup solid. Optimisme terhadap masa depan Artificial Intelligence (AI) jadi bahan bakar utama, mendorong saham-saham chip melesat tinggi. Tak ketinggalan, saham Moderna juga meroket dan ikut mendongkrak sentimen.

Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencetak rekor tertinggi baru, naik 0,99 persen ke level 49.462,08. Posisinya kini sudah sangat dekat dengan level psikologis 50.000 yang ditunggu-tunggu banyak pelaku pasar. Di sisi lain, S&P 500 menguat 0,62 persen, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,65 persen.

Lonjakan saham Moderna hampir mencapai 11 persen. Pemicunya adalah kenaikan target harga dari BofA Global Research. Aksi beli di saham perusahaan farmasi itu turut mengerek indeks sektor kesehatan S&P 500 naik hampir 2 persen.

Tapi, sorotan utama tetap pada sektor teknologi. Di ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, CEO Nvidia Jensen Huang memaparkan detail teknologi penyimpanan data terbaru. Presentasinya itu langsung disambut antusias oleh pasar.

Buktinya? Saham SanDisk melonjak lebih dari 27 persen. Western Digital naik 17 persen, disusul Seagate Technology dan Micron Technology yang masing-masing menguat 14 dan 10 persen. Keempatnya sama-sama mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa. Indeks saham chip Philadelphia SE Semiconductor bahkan naik 2,75 persen dalam sehari saja.

Menurut Jed Ellerbroek, manajer portofolio Argent Capital, prospek untuk perusahaan teknologi besar terlihat cerah.

Namun begitu, ada beberapa hal yang masih jadi perhatian investor. Valuasi saham di Wall Street masih terbilang mahal. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba, angka yang masih di atas rata-rata historisnya. Selain itu, pasar kini menanti data ekonomi yang lebih akurat setelah keributan shutdown pemerintah federal AS selama 43 hari mulai mereda. Data ketenagakerjaan Desember nanti akan jadi penentu; angka yang lemah bisa memperkuat peluang The Fed memangkas suku bunga.


Halaman:

Komentar