Lantas, apa yang menjadi ganjalannya? Purbaya menilai, sebelumnya ada ketidaksinkronan kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. "Injeksi uang yang kami taruh di sistem perbankan itu gak seoptimal yang saya duga sebelumnya," ujarnya.
"Harusnya ekonomi lari lebih cepat karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan bank sentral yang sekarang sudah dibereskan," tambahnya.
Kini, situasinya sudah berubah. Koordinasi antara kedua lembaga itu diklaim jauh lebih kuat. Dengan sinergi fiskal dan moneter yang makin solid, Purbaya tampak optimis. Ia yakin laju ekonomi nasional bisa dipacu lebih kencang tahun depan.
Optimismenya bahkan melampaui asumsi resmi. Dalam APBN 2026, target pertumbuhan ekonomi hanya 5,4%. Tapi Purbaya menyebut angka 6% sangat mungkin tercapai.
"Jadi sekarang bisa ngomong dengan lebih yakin bahwa tahun depan 6 persen, walaupun di APBN 5,4 persen ya," terangnya penuh keyakinan.
"Saya akan paksa dorong ke 6 persen, dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar, karena kami semakin sinkron dengan bank sentral."
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi