Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengumumkan langkah menarik. Pemerintah telah mengambil kembali sebagian dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di sejumlah bank. Nilainya cukup besar, mencapai Rp 75 triliun.
Sebelumnya, total dana SAL yang ditaruh di perbankan mencapai Rp 276 triliun. Dana itu tersebar di lima bank anggota Himbara dan satu bank pembangunan daerah. Porsi terbesar, masing-masing Rp 80 triliun, ada di tiga raksasa: Bank Mandiri, BRI, dan BNI.
Lalu, bagaimana dengan sisanya? BTN mendapat Rp 25 triliun, BSI Rp 10 triliun, dan Bank DKI memperoleh Rp 1 triliun. Setelah penarikan Rp 75 triliun tadi, posisi terakhir dana SAL di bank kini tersisa Rp 201 triliun.
Namun begitu, Purbaya menegaskan bahwa uang yang ditarik itu tidak sekadar diparkir di kas negara. "Sekarang di bank ada Rp 201 triliun, yang Rp 75 triliun kita tarik tapi kita belanjakan lagi," jelasnya.
Ia melanjutkan, "Jadi masuk ke sistem tapi nggak langsung dalam bentuk uang saya di bank, tapi uangnya masuk ke sistem lagi." Pernyataan itu disampaikan dalam briefing media di kantornya, Kamis lalu.
Menurut Purbaya, langkah ini adalah bagian dari strategi fiskal untuk mendongkrak aktivitas ekonomi. Di sisi lain, ia mengakui ada sedikit kekecewaan. Ternyata, penempatan dana pemerintah di bank-bank itu belum optimal mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.
Data dari Bank Indonesia sepertinya membenarkan hal itu. Hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit perbankan hanya 7,36% year-on-year. Angka itu dinilai masih kurang greget, belum mencerminkan gelontoran likuiditas yang semestinya.
Lantas, apa yang menjadi ganjalannya? Purbaya menilai, sebelumnya ada ketidaksinkronan kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. "Injeksi uang yang kami taruh di sistem perbankan itu gak seoptimal yang saya duga sebelumnya," ujarnya.
"Harusnya ekonomi lari lebih cepat karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan bank sentral yang sekarang sudah dibereskan," tambahnya.
Kini, situasinya sudah berubah. Koordinasi antara kedua lembaga itu diklaim jauh lebih kuat. Dengan sinergi fiskal dan moneter yang makin solid, Purbaya tampak optimis. Ia yakin laju ekonomi nasional bisa dipacu lebih kencang tahun depan.
Optimismenya bahkan melampaui asumsi resmi. Dalam APBN 2026, target pertumbuhan ekonomi hanya 5,4%. Tapi Purbaya menyebut angka 6% sangat mungkin tercapai.
"Jadi sekarang bisa ngomong dengan lebih yakin bahwa tahun depan 6 persen, walaupun di APBN 5,4 persen ya," terangnya penuh keyakinan.
"Saya akan paksa dorong ke 6 persen, dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar, karena kami semakin sinkron dengan bank sentral."
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau