JPMorgan Prediksi Animal Spirit Bakal Bangkit di Bursa Efek Indonesia pada 2026

- Kamis, 01 Januari 2026 | 09:45 WIB
JPMorgan Prediksi Animal Spirit Bakal Bangkit di Bursa Efek Indonesia pada 2026

Optimisme besar tampaknya sedang disiapkan untuk pasar saham Indonesia. Menurut analis JPMorgan, tahun 2026 bisa menjadi momen bangkitnya kembali "animal spirit" semangat berinvestasi yang penuh keyakinan dan kadang melampaui pertimbangan rasional di Bursa Efek Indonesia. Prediksi ini muncul setelah melewati tahun 2025 yang dipandang sebagai masa transisi politik.

Lalu, apa yang akan jadi pendorongnya? Bank investasi asal AS itu menyoroti beberapa faktor kunci. Pertama, belanja pemerintah yang lebih agresif, baik lewat APBN maupun peran Danantara, diharapkan bisa mengerek konsumsi dalam negeri. Tren ini akan diperkuat oleh prospek pelonggaran kebijakan moneter dan kondisi geopolitik global yang mulai mereda.

Dalam laporannya, JPMorgan menetapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 9.100 untuk akhir 2026. Angka ini berdasar asumsi pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% dengan valuasi price to earnings (P/E) 15 kali. Mereka juga menyiapkan skenario lain: bull case di 10.000 dan bear case di 7.800.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia diperkirakan masih akan memotong suku bunga acuan sebesar 50 basis poin di tahun 2026. Likuiditas sistem keuangan yang membaik menjadi alasannya. Di sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diproyeksikan tetap terjaga di bawah 1% terhadap PDB, level yang tergolong sehat.

Namun begitu, bukan berarti jalan menuju 2026 akan mulus. JPMorgan mengingatkan satu risiko utama: volatilitas nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi menggerus kepercayaan dunia usaha dan konsumen. Efek domino yang paling dikhawatirkan adalah memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

Untuk strategi sektor, rekomendasi overweight diberikan pada industri, material, consumer staples, consumer discretionary, dan properti. Sementara dari sisi pelaku, partisipasi investor ritel domestik diperkirakan masih tinggi di paruh pertama 2026.

Faktanya, keterlibatan investor ritel bersama quant funds sudah mencapai rekor tertinggi pada paruh kedua 2025 mendekati level pandemi 2020. Minat mereka banyak tersedot ke saham-saham konglomerat besar dan saham berbasis indeks.

Tapi tren ini mungkin tak bertahan selamanya. Menurut JPMorgan, partisipasi ritel berpeluang melandai di paruh kedua 2026. Semuanya tergantung implementasi definisi baru Adjusted Free Float dari MSCI yang rencananya diumumkan kuartal I-2026 dan berlaku Mei 2026.

Di sisi lain, aliran dana institusi justru diproyeksikan membaik secara bertahap sepanjang tahun. Dorongan baru diharapkan datang dari mandat investasi publik Danantara, serta meningkatnya alokasi aset saham dari dana pensiun dan BPJS Ketenagakerjaan.

Nah, bicara soal Danantara, JPMorgan menilai lembaga ini bisa jadi faktor kunci "value-up" bagi pasar. Pemisahan peran yang jelas antara holding BPI Danantara, Danantara Asset Management (DAM), dan Danantara Investment Management (DIM) dinilai sebagai langkah positif.

Struktur ini dianggap penting untuk memisahkan kewajiban pelayanan publik dan dorongan profitabilitas BUMN.

"Eksekusi Danantara pada 2026 dinilai dapat menjadi katalis utama re-rating valuasi pasar," tulis laporan itu.

Dengan fleksibilitasnya di luar APBN mulai dari menghasilkan pendapatan, menghimpun pendanaan eksternal, hingga menyalurkan investasi Danantara berpotensi kuat menjadi penentu arah pasar saham Indonesia di 2026.

Selain IHSG, JPMorgan juga memperbarui target untuk indeks MSCI Indonesia (MXID). Target bear/base/bull case untuk akhir 2026 masing-masing ditetapkan di 6.000, 7.200, dan 7.500.

Secara keseluruhan, mereka memproyeksikan laba pasar akan pulih ke kisaran 8% pada 2026. Ini adalah pembalikan dari kontraksi satu digit menengah yang diperkirakan terjadi di 2025, didorong oleh efek basis rendah dan permintaan konsumsi yang mulai bangkit.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar