Sepanjang 2025, sektor kesehatan di bursa saham ternyata jadi primadona. Indeks IDXHealth melesat 43,93 persen secara year to date, sebuah angka yang cukup fantastis di tengah dinamika pasar yang tak menentu. Dari puluhan emiten yang bergerak di bidang ini, ada satu nama yang kinerjanya benar-benar di luar dugaan.
PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mencatatkan pertumbuhan harga saham yang luar biasa, mencapai 599,15 persen. Bayangkan, dari level Rp2.360 di awal Januari, sahamnya melonjak ke Rp16.500 per lembar pada penutupan akhir tahun. Dengan jumlah saham beredar 12,23 miliar, nilai kapitalisasi pasarnya pun membengkak hingga Rp201,94 triliun. Angka itu menempatkannya sebagai perusahaan kesehatan dengan kapitalisasi terbesar.
Lalu, apa yang mendorong kenaikan spektakuler ini? Menurut sejumlah analis, ada beberapa sentimen positif. Salah satunya adalah proyek pembangunan RS Internasional Mayapada Apollo di KEK Batam yang sudah mulai dikerjakan. Di sisi lain, perusahaan juga melakukan aksi korporasi berupa private placement.
“Lewat penempatan privat, SRAJ menerbitkan sekitar 238,25 juta saham baru dengan harga Rp2.200 per saham,” demikian penjelasan dari keterangan perusahaan.
Dana segar sebesar Rp524,16 miliar yang terkumpul itu rencananya dipakai untuk melunasi sebagian utang kepada pemegang saham pengendali, PT Surya Cipta Inti Cemerlang.
Nah, di posisi runner-up, ada PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) yang tak kalah menarik. Sahamnya naik 279,66 persen, dari Rp59 menjadi Rp224 per saham. Sejak Juli lalu, MMIX sudah keluar dari zona saham ‘recehan’ di bawah Rp100.
Emiten di bidang kesehatan dan kecantikan ini juga bagi-bagi saham bonus dengan rasio 1:1, yang mengerek modal dasarnya dari Rp60 miliar menjadi Rp120 miliar. Mereka tak cuma diam. Bisnisnya dikembangkan dengan masuk ke segmen produk konsumen cepat saji (FMCG), lengkap dengan lisensi produk dari AS, Jepang, dan Korea Selatan. Bahkan, mereka kolaborasi dengan perusahaan asal China, NicePaper, untuk bangun pabrik popok di Tangerang. Kapitalisasi pasarnya sekarang sekitar Rp1,08 triliun.
Berikut ini sepuluh emiten kesehatan dengan kinerja harga terbaik sepanjang 2025:
SRAJ Rp16.500 ( 599,15%)
MMIX Rp224 ( 279,66%)
CARE Rp680 ( 257,89%)
PYFA Rp476 ( 114,41%)
SOHO Rp1.370 ( 112,40%)
PEVE Rp550 ( 88,36%)
SURI Rp91 ( 68,52%)
HALO Rp89 ( 67,92%)
PRIM Rp83 ( 43,10%)
RSCH Rp410 ( 42,36%)
Masih ada lagi saham-saham lain di sektor kesehatan yang juga mencatatkan kenaikan, meski lebih moderat. Di antaranya MEDS, MDLA, PRAY, hingga SAME.
Tapi tentu, tidak semua ceritanya bagus. Dari 38 saham kesehatan yang tercatat, 15 di antaranya justru tertekan dan tiga lagi disuspensi yaitu INAF, RSGK, dan SCPI. Penurunan paling dalam dialami oleh PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH), emiten yang baru IPO pada Mei lalu. Harganya anjlok 54,49 persen dari harga perdana, ditutup di Rp81. Disusul BMHS yang melemah 24 persen.
Inilah daftar saham kesehatan yang mengalami penurunan sepanjang tahun:
DKHH Rp81 (-54,49%)
BMHS Rp190 (-24,00%)
KAEF Rp515 (-18,90%)
PRDA Rp2.300 (-13,86%)
OBAT Rp388 (-11,01%)
HEAL Rp1.375 (-11,58%)
KLBF Rp1.205 (-10,07%)
SILO Rp2.740 (-9,87%)
PEHA Rp300 (-8,54%)
SIDO Rp540 (-7,69%)
MIKA Rp2.380 (-7,03%)
CHEK Rp163 (-5,23%)
IKPM Rp224 (-6,67%)
DGNS Rp184 (-6,60%)
MERK Rp3.350 (-6,42%)
Tahun ini juga ada empat perusahaan kesehatan yang baru melantai di bursa. PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) yang IPO di Januari, harganya turun 48 persen. Sementara PT Medela Potentia Tbk (MDLA) justru sukses, naik 77 persen sejak pencatatan perdana April lalu. Sayangnya, DKHH dan CHEK yang IPO di tahun ini masih terjebak di zona merah.
Begitulah potret pasar sepanjang 2025. Ada yang meroket, ada yang terpuruk. Tapi yang jelas, sektor kesehatan tetap menyimpan daya tarik dan kejutan tersendiri bagi para investor.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp14.000 per Gram di Awal Pekan
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Rendah
Pemerintah Pangkas Target Produksi Batu Bara, Kontraktor Tambang Terancam
Pemegang Saham Setujui Akuisisi dan Rights Issue, Komposisi Dewan Komisaris BABY Dirombak