Dalam tiga bulan terakhir, saham TUGU menunjukkan tren yang cukup menarik. Dari posisi awal September yang masih bertengger di sekitar Rp960, harga saham Asuransi Tugu Pratama ini merangkak naik. Hingga penutupan perdagangan 17 Desember lalu, sahamnya sudah berada di level Rp1.135.
Kalau dihitung, kenaikannya mencapai sekitar 18,85 persen. Pergerakannya pun tak datar-datar saja, beberapa kali reli disertai lonjakan volume perdagangan. Bahkan, sepanjang tahun ini, puncaknya sempat menyentuh Rp1.180 tepat di tanggal 12 Desember.
Menurut Research Analyst Phintraco, Nurwachidah, kenaikan ini konsisten. Data pergerakan satu minggu dan satu bulan terakhir juga menunjukkan pertumbuhan, masing-masing 1,79 persen dan 11,82 persen.
"Kenaikan saham TUGU dalam 3 bulan cenderung konsisten karena tercatat pertumbuhan juga terjadi pada data 1 minggu, serta 1 bulan terakhir dengan masing-masing 1,79 persen, serta 11,82 persen," ujarnya dalam riset yang dirilis Rabu (17/12/2025).
Nurwachidah mengakui, saham ini mungkin belum jadi perhatian utama banyak pelaku pasar. Likuiditasnya masih relatif kecil. Namun begitu, justru di situlah letak potensinya. Dari sisi valuasi, harganya masih terbilang murah.
Rasio price to book value (PBV)-nya masih di bawah 0,4x. Angka itu jauh dari kisaran satu kali yang biasa dianggap wajar untuk sebuah emiten. Jadi, masih ada ruang.
Fundamental perusahaan sendiri sebenarnya cukup solid. Laporan keuangan hingga Kuartal III-2025 mencatat pertumbuhan yang stabil. Premi bruto naik 5,6 persen year-on-year, dari Rp6,86 triliun menjadi Rp7,25 triliun.
Laba tahun berjalan juga ikut merangkak, naik sekitar 5,9 persen ke posisi Rp626 miliar. Aset dan ekuitas pun menguat signifikan.
"Pertumbuhan TUGU bukan hanya terjadi pada sisi top line, tetapi juga tercermin pada penguatan struktur neraca perusahaan," tambah Nurwachidah.
Yang tak kalah penting, kekuatan modalnya sangat menonjol. Risk-Based Capital (RBC) TUGU tercatat 360,9 persen, mengungguli rata-rata industri asuransi umum. Rasio Kecukupan Investasi (RKI)-nya juga jauh lebih tinggi dari sektor. Ini menunjukkan buffer yang kuat untuk menghadapi gejolak.
Di sisi lain, perusahaan ini juga dikenal cukup royal bagi hasil. Pembagian dividen tunai konsisten dilakukan dengan payout ratio sekitar 40 persen dalam tiga tahun terakhir. Pola ini memberi sinyal jelas: perusahaan tak cuma ekspansi, tapi juga peduli pada imbal hasil langsung bagi investor.
"Dengan harga saham yang masih mencerminkan PBV di bawah 0,4 kali dan riwayat pembagian dividen yang stabil, kombinasi antara potensi apresiasi harga dan penerimaan dividen menjadi salah satu alasan saham ini mulai dilirik kembali oleh pelaku pasar," jelas Nurwachidah.
Menurutnya, kenaikan 16 persen dalam tiga bulan ini baru penyesuaian awal. Ia merasa, kenaikan itu belum sepenuhnya mencerminkan fundamental yang ada, apalagi melihat PBV yang masih jauh di bawah satu kali. Dengan pertumbuhan premi dan laba yang tetap positif, plus neraca yang kuat, ruang untuk re-rating masih terbuka lebar.
Nurwachidah juga menyoroti disiplin perusahaan dalam pengelolaan risiko. Kekuatan modal dan prudent underwriting menjadi kunci konsistensi kinerja TUGU dalam lima tahun terakhir.
Posisi RBC yang tinggi dan profil investasi yang terjaga, tuturnya, memberi perusahaan cukup amunisi untuk menyerap volatilitas. Sekaligus, tetap menjaga kemampuan mereka untuk membayar dividen secara rutin kepada pemegang saham.
Jadi, meski likuiditasnya belum besar, saham ini punya cerita yang menarik untuk diikuti. Dari valuasi murah, fundamental tumbuh, hingga dividen yang stabil.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020