Perbanas Proyeksikan Kredit Perbankan Melaju 9-11% di 2026, Meski Awan Gelap Masih Menggantung

- Rabu, 10 Desember 2025 | 15:18 WIB
Perbanas Proyeksikan Kredit Perbankan Melaju 9-11% di 2026, Meski Awan Gelap Masih Menggantung

Di tengah hiruk-pikuk ketidakpastian global, ada secercah optimisme untuk perbankan nasional. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memandang tahun 2026 bakal lebih cerah. Mereka memproyeksikan kredit perbankan bisa tumbuh antara 9 hingga 11 persen. Angka itu terlihat lebih menggembirakan dibandingkan perkiraan untuk tahun sebelumnya.

“Kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik, salah satu parameternya ya kredit perbankan tumbuh,” ujar Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi.

Dia menyampaikan hal itu dalam CEO Forum Economic Outlook 2026 di Gedung BRI, Jakarta, Rabu lalu. Menurutnya, prospek ekonomi yang lebih positif akan membuka ruang lebih lebar bagi ekspansi kredit.

“Kita melihat kredit perbankan mungkin tumbuh lebih baik dibandingkan 2025. Tapi kelihatannya angkanya berkisar antara 9 sampai 11 persen gitu ya,” tambah Hery.

Dia merasa permodalan bank-bank saat ini cukup kuat untuk menopang rencana ekspansi itu. Kebijakan fiskal dan moneter pemerintah, termasuk pembiayaan APBN, diharapkan bisa memacu sektor riil. Dan kalau sektor riil sudah bergerak, kredit perbankan pasti akan mengikutinya.

Namun begitu, angin dari luar negeri tidak sepenuhnya bersahabat. Economist Perbanas, Enrico Tanuwidjaja, memberikan catatan serius. Kondisi global saat ini, katanya, diliputi ketidakpastian yang bahkan lebih tajam dibanding episode krisis sebelumnya.

“Kalau kita bandingkan dengan beberapa episode, seperti Brexit, trade tension, bahkan Covid, kita sudah jauh melebihi,” tutur Enrico dalam kesempatan yang sama.

Dia menyebut ada tiga sumber masalah utama: tensi geopolitik yang meruak di berbagai kawasan, kebijakan tarif resiprokal AS di era Donald Trump yang transaksional, serta perlambatan perdagangan global. Kombinasi ini benar-benar mengguncang dunia.

“Ini benar-benar mengguncang perdagangan dunia, sehingga pertumbuhan ekonomi global itu dirasa akan merosot,” katanya.

Enrico memperkirakan gelombang ketidakpastian itu akan menekan ekspor tahun depan. Hubungan AS-China yang naik turun juga berpotensi memicu gejolak pasar. Meski demikian, dia menekankan bahwa fokus harus tetap pada penguatan ekonomi dalam negeri. Sinergi antara pemerintah dan perbankan mutlak diperlukan untuk menggeliatkan ekonomi berbasis domestik.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan kredit sekitar 9 persen dinilai masih realistis. Itu menurut Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbanas, Aviliani. Tapi dia mengingatkan satu hal penting: permintaan kredit sangat bergantung pada pendapatan masyarakat dan pelaku usaha.

Aviliani juga menyoroti tren yang patut diwaspadai. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sejak 2022 cenderung tertinggal di bawah pertumbuhan kredit.

“Jadi ini memang perbankan ke depan perlu berbagai kebijakan agar likuiditas tetap terjaga,” kata Aviliani.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 akan berada di batas bawah kisaran 8-11 persen. Sementara itu, OJK mencatat intermediasi perbankan masih stabil hingga September 2025. Pertumbuhan kredit tercatat 7,70 persen, naik tipis dari Agustus, dengan nilai merangkak ke Rp 8.162,8 triliun. Angka-angka ini menjadi latar belakang yang menarik untuk melihat proyeksi optimis menuju 2026.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler