Sorgum Menyala: Dari Lahan Petani ke Energi Bersih PLN

- Minggu, 07 Desember 2025 | 18:12 WIB
Sorgum Menyala: Dari Lahan Petani ke Energi Bersih PLN

Di tepi lahan Kampung Cipatuguran, Pelabuhan Ratu, suasana pagi itu tampak berbeda. Bersama warga setempat dan pemerintah daerah, tim dari PLN Indonesia Power Unit Bisnis Jawa Barat 2 turun langsung mengawali program penanaman sorgum. Mereka menyebut gerakan ini "Empowering People, Save the Future".

Menurut Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, program ini punya tujuan yang lebih dalam dari sekadar menanam.

"Ini strategi yang menyambungkan beberapa hal sekaligus," ujarnya.

Ia menjelaskan, sorgum yang dikembangkan nantinya bisa dipakai untuk biomassa di PLTU lewat sistem co-firing. Tapi di sisi lain, tanaman ini juga menyentuh urusan ketahanan pangan dan yang tak kalah penting: menambah penghasilan petani lokal.

Pilihan jatuh pada sorgum bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal tangguh. Bisa hidup di lahan-lahan yang kurang subur, cocok dengan iklim tropis kita. Manfaatnya pun beragam; dari pangan alternatif, pakan, bahan industri, sampai sumber bioenergi yang bisa tekan emisi karbon.

"Jadi ini bukan proyek energi hijau biasa. Lebih ke gerakan transformatif yang kami harap memberi manfaat nyata buat masyarakat Sukabumi dan lingkungan sekitar," tegas Sudarmanta.

Ia menambahkan, dukungan regulasi, investasi, dan komitmen semua pihak mutlak diperlukan jika ingin program semacam ini diperluas. Itu kunci menuju agenda dekarbonisasi Indonesia.

Di lapangan, sorgum ternyata punya peran ekologis yang menarik. Sebagai cover crop, ia melindungi tanah dari erosi, menjaga kualitasnya, dan pada akhirnya menyuburkan lahan. Hal ini mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan di kawasan sekitar pembangkit.

Sementara itu, dari sisi operasional, Senior Manager PLN IP UBP JPR Bowo Pramono memberi penjelasan. Co-firing, bagi PLN, adalah salah satu pilar penting menuju target Net Zero Emission di tahun 2060.

"Scale-up operasi kami lakukan bertahap," kata Bowo dalam keterangan resminya, Minggu (7/12).

Rasio co-firing dinaikkan perlahan, sekitar 5 sampai 10 persen. Selama proses itu, pemantauan kinerja terus dilakukan untuk memastikan semuanya berjalan optimal dan berkelanjutan.

Ke depannya, PLN Indonesia Power berjanji akan terus mendampingi kelompok tani. Tujuannya agar budidaya sorgum ini betul-betul produktif dan bisa bertahan lama. Mereka juga membuka peluang kemitraan seluas-luasnya.

Dengan begitu, pemanfaatan sorgum sebagai biomassa bisa diperluas. Harapannya jelas: pembangkit listrik bisa beroperasi dengan cara yang semakin ramah lingkungan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler