Jumat pagi (5/12/2025) jadi hari yang manis bagi pemegang saham XL Axiata. Saham emiten telekomunikasi berkode EXCL itu tiba-tiba melesat, menarik perhatian banyak trader. Pukul 10.52 WIB, catatan Bursa Efek Indonesia menunjukkan harga sahamnya sudah berada di level Rp3.200 per unit. Itu artinya, terjadi kenaikan tajam sebesar 10,73 persen dalam sekali hentak. Transaksi yang terjadi pun tidak main-main, nilainya menembus angka Rp195,81 miliar.
Kalau dilihat lebih jauh, performa EXCL memang sedang bersinar. Dalam sepekan terakhir, sahamnya sudah naik 10,73 persen. Bahkan, dalam rentang sebulan, kenaikannya lebih fantastis lagi: melambung 17,22 persen. Pergerakan ini tentu mengundang tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, ada sinyal teknikal yang menarik di sini. Ia melihat pola yang mulai berubah.
“EXCL secara teknikal berhasil keluar dari konsolidasi besar sepanjang tahun. Weekly chart pattern ascending triangle dengan neckline support di 3.000, resistance di 3.300. EXCL memiliki target ke angka 4.000,” ujar Michael, Jumat lalu.
Di sisi lain, ada sebuah aksi korporasi yang mungkin jadi katalis. Baru sehari sebelumnya, tepatnya 4 Desember 2025, EXCL melepas seluruh kepemilikannya di PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Saham yang dilepas mencapai 18,32 persen. Transaksi ini bernilai besar, sekitar Rp1,9 triliun, dengan harga jual rata-rata Rp432 per saham MORA.
Namun begitu, ada yang janggal dari angka jual-beli itu. Harga Rp432 per saham itu terpaut sangat jauh dari harga penutupan MORA di hari yang sama, yaitu Rp8.850. Artinya, EXCL menjual dengan diskon yang sangat dalam, hampir 95,1 persen lebih murah. Pihak pembelinya sendiri sampai saat ini masih belum diumumkan ke publik.
Prospek EXCL ke depan juga mendapat sorotan dari analis. Ciptadana Sekuritas, dalam riset 17 November lalu, mempertahankan rekomendasi ‘beli’ untuk saham ini. Mereka bahkan menaikkan target harga menjadi Rp3.300 per saham, dengan asumsi valuasi bergeser ke kinerja 2026.
Memang, manajemen mengakui bahwa beban biaya integrasi masih akan terasa hingga akhir 2026. Tapi Ciptadana menilai hal ini sudah mereka perhitungkan. Kabar baiknya, prospek diperkirakan akan jauh lebih cerah mulai 2027, saat beban itu perlahan menghilang.
Yang menarik, data kuartal III-2025 menunjukkan potensi tersembunyi EXCL. Tanpa memperhitungkan biaya integrasi, laba bersih normalnya bisa mencapai Rp1,2 triliun. Angka itu melonjak 278,4 persen dibanding kuartal sebelumnya, dan naik 219,6 persen year-on-year. Ini jelas menunjukkan profitabilitas inti yang kuat.
Meski demikian, bukan berarti tanpa risiko. Ciptadana mengingatkan beberapa hal yang perlu diwaspadai: pertumbuhan ARPU yang stagnan, daya beli konsumen yang masih lemah dalam jangka panjang, dan risiko EXCL gagal memaksimalkan sinergi pasca-merger. Semua faktor ini bisa mempengaruhi perjalanan saham ke depannya.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan investor masing-masing. Yang pasti, Jumat lalu, EXCL berhasil mencuri perhatian dengan lonjakan yang cukup berarti.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020