Ekonom Ingatkan Target Pertumbuhan 6 Persen Butuh Konsistensi dan Konsolidasi Fiskal

- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:01 WIB
Ekonom Ingatkan Target Pertumbuhan 6 Persen Butuh Konsistensi dan Konsolidasi Fiskal

Ekonom Halim Alamsyah menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen yang disampaikan Presiden Prabowo dalam Nota Keuangan patut didukung, tetapi ia mengingatkan bahwa konsistensi dalam pelaksanaan program menjadi kunci. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi pada semester I tahun ini baru mencapai 5,4 hingga 5,5 persen.

“Apakah mungkin melompat 0,5 persen untuk tahun depan, semua tentu harus didukung oleh program-program kerja, baik yang ada di sektor pemerintah maupun yang ada di sektor swasta, mestinya,” kata Halim dalam program Bicara Ekonomi Politik (BEP) di YouTube Terus Terang Media, Kamis (20/08/2026).

Ia juga merespons rencana pemerintah melanjutkan program-program prioritas dengan anggaran yang lebih besar dibanding 2026. Menurut Halim, ada keinginan untuk melakukan konsolidasi terhadap program-program tersebut.

“Konsolidasi dalam pengertian belanjanya barang kali tidak turun secara nominal, tapi dari sisi rasio atau katakan pertumbuhannya mungkin menjadi lebih melambat. Dengan harapan produktivitas setiap satu rupiah yang dikeluarkan dari pemerintah itu menjadi lebih produktif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Dengan demikian, pemerintah mengharapkan defisit fiskal yang tahun ini masih sekitar 2,8-2,9 persen bisa turun menjadi 2,4 persen. Karena itu, ia mengingatkan, untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen, perlu ada pengendalian belanja.

Sebab, jika PDB naik, defisit secara rasio akan mengecil. Namun, stimulus yang diberikan pemerintah nantinya masih bergantung pada program-program prioritas.

“Program di bidang pendidikan, di bidang kesehatan, di bidang perlindungan sosial, dan termasuk mungkin program-program besar seperti MBG, KDMP, dan sebagainya. Ada semacam keinginan juga untuk melakukan konsolidasi, saya pikir konsolidasi ini kelihatannya dari bacaan saya menjadi semacam reaksi dari pemerintahan sekarang terhadap berbagai kejadian yang kita alami selama tahun 2026 ini,” kata Halim.

Salah satu tekanan yang memicu konsolidasi adalah kenaikan harga minyak yang membuat subsidi membengkak. Pemerintah pun menjaga daya beli dengan tidak menaikkan harga BBM secara umum, kecuali untuk jenis yang tidak disubsidi.

Halim juga mencatat, program-program besar seperti MBG mulai mengalami perbaikan dan pengurangan anggaran. Ia menilai, langkah konsolidasi ini sudah terlihat sebagai upaya mencapai pertumbuhan 6 persen.

“Jadi, pemerintah masih mau tumbuh tinggi, perlu stimulus, tapi dia juga tahu bahwa itu memerlukan pembiayaan, pembiayaan datang dari penerimaan, dari pajak terutama, ditambah konsolidasi. Bagaimana mengharmonisasi 3 kepentingan yang boleh dibilang agak sedikit conflicting menjadi sesuatu yang memang bisa dilaksanakan dengan baik. Jadi, intinya nanti konsistensi dalam pelaksanaan program-program itu, dan seberapa efektif dan efisien dalam mendorong produktivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi semester I tahun ini sebesar 5,4 persen masih didorong oleh sektor jasa. Sementara produktivitas sektor lain, terutama yang menghasilkan barang, tidak sebesar sektor jasa.

Beberapa sektor yang dimaksud antara lain agrikultur seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan; pertambangan seperti timah, nikel, dan batu bara; serta industri manufaktur yang biasanya diharapkan menjadi motor pertumbuhan.

“Kalau kita menggunakan klasifikasi ini, kita lihat ternyata selama beberapa tahun terakhir, bahkan mungkin kalau kita mundur sampai 10 tahun terakhir, angkanya itu tidak jauh antara 3-4 persen sebetulnya pertumbuhan sektor barang ini,” kata Halim.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags