Merawat Rasa Memiliki: Esai Mahasiswa UI tentang Bangsa dan Tanggung Jawab

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:21 WIB
Merawat Rasa Memiliki: Esai Mahasiswa UI tentang Bangsa dan Tanggung Jawab

Seorang mahasiswa Universitas Indonesia menulis esai yang menggugah tentang makna kebangsaan, menolak narasi sinis yang menggeneralisasi sejarah kelam bangsa, dan menegaskan pentingnya rasa memiliki yang kritis. Esai berjudul "Bangsaku" karya Fathimah Azzahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UI periode 2026, mengajak pembaca untuk merenungkan kembali cara kita memandang negeri ini.

Fathimah bercerita tentang sebuah percakapan yang memantik amarahnya. Seseorang menuturkan sejarah kolonialisme dengan menyimpulkan bahwa kezaliman masa lalu berasal dari bangsa sendiri dan tabiat masyarakat memang sudah rusak sejak awal. Ia tidak menyangkal fakta pengkhianatan yang ada, tetapi menolak lompatan logika yang menyamakan perbuatan sebagian orang dengan watak seluruh bangsa.

Menurutnya, sebuah bangsa bukanlah individu yang wataknya bisa didiagnosis dari tindakan segelintir anggota. Ia adalah ruang bersama tempat manusia dengan segala kemungkinan hidup. Menjadikan pengkhianatan masa lalu sebagai potret sejati bangsa, kata Fathimah, adalah pengkhianatan pula terhadap mereka yang telah memberikan segalanya untuk negeri ini tanpa pamrih.

Dari situlah ia merasakan apa yang disebutnya rasa berbangsa. "Saya menyadari bahwa saya sedang membela sesuatu yang saya anggap milik saya," tulisnya. Baginya, kata "bangsaku" mengandung kepemilikan yang meleburkan, seperti cara seseorang menyebut tubuhnya sendiri bukan karena kuasa, melainkan karena tak bisa memisahkan diri.

Justru karena rasa memiliki itulah ia bisa mengakui ketidaksempurnaan bangsa tanpa merasa mengkhianati. Orang yang tidak merasa memiliki cukup mengamati, menilai, lalu pergi. Sementara yang merasa memiliki tidak punya pilihan untuk pergi. Kritik paling keras justru sering datang dari mereka yang paling tidak bisa meninggalkan negeri ini.

Fathimah juga mengingatkan bahaya sinisme yang menyamar sebagai kecerdasan. Sinisme membuat seseorang hidup di negerinya sendiri seperti penonton yang sudah membayar tiket berhak mengomentari, tetapi merasa tak punya urusan dengan mutunya. Padahal, rasa memiliki yang sejati memungkinkan kita bersatu tanpa harus seragam.

Ia menekankan bahwa persatuan tidak berarti kesamaan pendapat. Perdebatan yang lahir dari keterlibatan akan menghasilkan diskursus tajam karena setiap pihak memperjuangkan versi terbaik dari sesuatu yang sama-sama mereka cintai. Sebuah bangsa yang seluruh warganya sepakat bukanlah bangsa yang bersatu, melainkan bangsa yang sebagian rakyatnya tidak merasa memiliki.

Dalam esainya, Fathimah juga merespons pertanyaan rekannya, Jason Sihite, tentang siapa tuan rumah di negeri ini. Ia berargumen bahwa tidak ada tuan rumah, atau jika pun ada, kita semua adalah tuan rumah dan karena itu tidak seorang pun boleh menjadi tamu. Nasionalisme yang sehat tidak membutuhkan musuh untuk merasakan dirinya sendiri; rasa memiliki yang sungguh-sungguh justru mempersulit eksklusivisme.

Fathimah mengakui bahwa perasaan berbangsa yang sudah selesai di dalam diri mungkin akan menjadi sebab untuk berhenti berpikir. Baginya, hak untuk mengatakan "bangsaku" tidak pernah diberikan oleh siapa pun; ia tumbuh dari kesediaan untuk merasa bertanggung jawab. Ia berharap seluruh penduduk negeri ini dapat mengucapkannya dengan kebebasan dan keyakinan yang sama, karena kalimat itu kehilangan arti jika hanya sebagian orang yang boleh mengucapkannya.

Pada akhirnya, tulisnya, kemerdekaan bukan sekadar keadaan ketika tidak ada lagi yang menjajah kita, melainkan keadaan ketika tidak seorang pun di negeri ini perlu dipertanyakan untuk merasa memilikinya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags