Fathimah Azzahra dan Gelora Suara Anak Muda yang Perlu Dikawal

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Fathimah Azzahra dan Gelora Suara Anak Muda yang Perlu Dikawal

Nama Fathimah Azzahra mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai lini. Media arus utama mengulas sosoknya, sementara foto dan videonya tersebar luas di media sosial. Sebagian orang mengagumi keberaniannya, sebagian lain melontarkan kritik. Begitulah dinamika ketika seseorang mulai bersuara lantang: sanjungan dan tudingan kerap datang bersamaan.

Fathimah adalah mahasiswi Program Sarjana Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023 yang kini dipercaya sebagai Wakil Ketua BEM UI 2026, mendampingi Yatalathof Ma'shum Imawan. Rekam jejaknya di dunia kemahasiswaan cukup panjang: pernah memimpin Komisi II DPM UI, aktif dalam kegiatan sosial-kedokteran, hingga meraih Juara 1 kompetisi riset nasional The 17th Liver Update 2025. Namun, deretan prestasi akademik itu bukan alasan utama publik menoleh kepadanya. Publik melihat karena ketajaman dan keberaniannya berargumentasi.

Dalam aksi massa di Jakarta pada 18 Agustus 2026, Fathimah kembali menjadi penyuara aspirasi yang menonjol. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa substansi perjuangan gerakan mahasiswa bukan diukur dari seberapa jauh fisik massa menembus barikade menuju Bundaran Hotel Indonesia, melainkan pada keberhasilan mempertahankan hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat. Massa mahasiswa UI menyuarakan delapan tuntutan yang harus ditindaklanjuti pemerintah: hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri, hentikan korupsi, kolusi, dan nepotisme, wujudkan reforma agraria sejati, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP, hentikan pemusatan kekuasaan dan kembalikan otonomi daerah, tetapkan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores, serta hentikan represivitas dan intervensi TNI-Polri di ruang sipil.

Jika pemerintah peka dan berempati, tuntutan mahasiswa UI ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, sekaligus harapan bagi masyarakat Indonesia di tengah momentum 81 tahun kemerdekaan RI.

Gema Sejarah dalam Sebuah Nama

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, nama Fathimah Azzahra memantik resonansi tersendiri. Saya teringat pada Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW dan Khadijah RA. Membandingkan keduanya jelas tidak proporsional, karena zaman, konteks sosial, dan medan pergulatannya berbeda jauh. Namun, nama kerap membawa gema sejarah. Fatimah az-Zahra dikenang sebagai figur perempuan bersahaja yang teguh, tangguh, dan berani bersikap di masa-masa sulit. Membaca nama yang sama pada sosok mahasiswi kedokteran ini menyiratkan benang merah: keberanian perempuan muda untuk mengambil posisi tegas di ruang publik.

Fathimah adalah anak zamannya. Dunia yang dihuninya tidak lagi sama dengan medan tempur para perintis Republik. Meski demikian, api anak muda untuk mempertanyakan keadaan bukanlah barang baru. Sejarah Indonesia dibentuk oleh keberanian generasi muda yang enggan menunggu usia matang atau jabatan politik untuk memikirkan arah bangsa. Ketika Budi Utomo berdiri pada 1908, Soetomo baru berusia 20 tahun. Begitu pula para pemuda pada 1928 yang berani mengimajinasikan identitas kebangsaan yang belum pernah ada sebelumnya.

Kritik yang kerap menuduh gerakan mahasiswa belum matang, ikut-ikutan, atau bahkan sinis menyebutnya sebagai "mahasewa", terbentur pada fakta sejarah ini. Usia muda justru memberikan kejujuran intelektual untuk membedah hal-hal yang oleh generasi pendahulunya dianggap wajar. Hal ini terlihat pada Fathimah. Latar belakangnya di fakultas kedokteran tidak membatasi daya kritisnya terhadap kebijakan publik. Saat menanggapi program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, ia mengajukan argumen berbasis data: pemenuhan fasilitas dasar pendidikan serta ketimpangan infrastruktur sekolah harus diprioritaskan sebelum menambah beban program baru. Cara penyampaiannya yang lugas, cerdas, tenang, dan sistematis membuat narasinya menyebar luas.

Antara Popularitas dan Kedalaman Gagasan

Kehadiran media massa memberikan konteks dan verifikasi, sedangkan media sosial menyuplai kecepatan. Kombinasi ini menaikkan gaung dari koridor kampus ke panggung nasional secara instan. Namun, sifat media sosial yang cepat berlalu menyimpan bahaya. Popularitas yang lahir dari potongan video berdurasi belasan detik rentan terjebak pada ketenaran figur, bukan kedalaman gagasan. Fathimah dituntut cermat agar kepemimpinan pemikirannya tidak tergerus menjadi sekadar sensasi konten.

Cara Fathimah menyusun gagasan mengindikasikan tumbuh kembang di lingkungan yang kaya tradisi literasi, bukan sekadar terampil membaca teks, melainkan membaca keadaan, membedah naskah kebijakan, menelusuri motif ketidakadilan, serta melakukan otokritik sebelum berucap. Ini juga mematahkan tudingan bahwa Gen Z itu malas gerak, manja, lemah mental, dan berbagai pandangan negatif lainnya.

Ujian Sejati Seorang Pembaharu

Namun, menguji daya tahan seorang figur tidak cukup hanya pada apa yang terlihat hari ini. Pertanyaan krusialnya: di mana posisi nurani Fathimah lima, sepuluh, atau dua puluh tahun mendatang? Saat ini ia berdiri bebas di luar benteng kekuasaan. Suaranya murni mewakili konstituen mahasiswa dan rakyat kecil. Namun, panggung sejarah kerap menampilkan romantisme yang tragis: banyak mantan aktivis yang garang di jalanan perlahan melunak saat melangkah masuk ke koridor eksekutif maupun legislatif. Sebagian beradaptasi dengan kompromi sistem, sebagian lain berbalik menjadi perisai bagi kekuasaan yang dulu mereka tentang.

Ujian sejati seorang pembaharu bukan diukur dari seberapa keras teriakan toa yang dipegangnya di luar pagar parlemen, melainkan pada keteguhan nuraninya untuk tidak menjual idealisme ketika kursi kekuasaan resmi didudukinya. Masyarakat tidak boleh berhenti pada tahap mengagumi. Tugas publik adalah mengawal, mengkritik, dan menagih konsistensi tersebut. Kita tidak kekurangan orang berotak encer di negeri ini, tapi kita hanya kerap kehabisan figur bijak yang ingat kepada siapa kepintaran itu harus diabdikan.

Ujian Fathimah Azzahra bukan terletak pada gemuruh tepuk tangan dan kepungan kamera hari ini, melainkan kelak, saat lampu panggung padam, layar besar diturunkan, sorot media berpindah, dan kekuasaan datang menawarkan fasilitas serta kenyamanan. Di titik itulah sejarah akan mencatat apakah ia pernah menjadi penyuara rakyat, atau memilih terus menjadi penyambung lidah rakyat hingga akhir hayat. Waktu juga yang akan menjadi saksi, melihat, dan mengenang sosoknya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags