Di tengah reruntuhan Gaza, muncul pemandangan yang kontras: seorang anak membuka kedai crepe kecil dengan stok Nutella, seseorang melukis papan nama di gerobak kopi, dan lampu-lampu temaram menghiasi sudut-sudut yang dulunya hancur. Warga Palestina, kata Hani Almadhoun, aktivis kemanusiaan yang akrab dengan situasi di sana, punya kemampuan luar biasa untuk menciptakan keindahan dari keterbatasan. Mereka memotret, menambah musik, dan mengunggahnya ke media sosial dengan satu pesan: kami masih di sini, kami masih bisa berkarya.
Namun, di sisi lain, ada realitas pahit yang terekam kamera: seorang anak kecil mengangkut jeriken air yang hampir sebesar tubuhnya, sementara ayahnya duduk di tenda kebingungan mencari obat tanpa uang dan akses dokter. Dua gambaran ini, kata Almadhoun, sama-sama nyata dan tidak saling meniadakan. Tetapi, ia khawatir, momen-momen kecil kebahagiaan itu justru disalahgunakan untuk mereduksi penderitaan yang masih membara.
Almadhoun mencontohkan, sebuah video kedai crepe yang diunggah warga Gaza diambil oleh akun-akun tertentu dan dijadikan 'bukti' bahwa kelaparan di Gaza berlebihan. Padahal, usaha kecil itu mungkin tutup dalam seminggu karena tak ada yang mampu membeli. "Mereka yang berusaha menunjukkan kehidupan masih berjalan kini harus khawatir kebahagiaan mereka dijadikan senjata untuk menyerang orang-orang yang mengantre makanan di belakang mereka," tulisnya. Akibatnya, banyak yang berhenti berbagi momen positif, atau malah terjebak dalam permintaan maaf yang tidak seharusnya.
Lebih jauh, Almadhoun menyoroti dampak psikologis dari citra tunggal Gaza sebagai tempat kehancuran. Ketika seseorang berkata 'Saya dari Gaza', yang terbayang di benak orang lain hanyalah abu, debu, dan tenda. Padahal, ada banyak kisah lain: anak yang pandai meracik kopi, gadis yang bercita-cita jadi desainer, pemuda yang menghabiskan tiga hari mempercantik kedai tanpa modal. "Mereka tidak mengenal siapa pun yang masih berusaha membangun kehidupan di sana," keluhnya.
Almadhoun menegaskan bahwa keindahan dan penderitaan di Gaza adalah dua sisi yang tak bisa dipertentangkan. Kedai crepe tidak menghapus kelaparan, dapur umum tidak melenyapkan martabat, dan tawa anak tidak berarti tidak ada anak lain yang kelaparan di malam yang sama. "Dibutuhkan niat buruk yang khas untuk melihat satu foto dan berpura-pura bahwa foto itu menjelaskan segalanya," ujarnya. Masalahnya bukan pada orang yang bingung, melainkan pada mereka yang sengaja menjadikan satu kebenaran sebagai senjata melawan kebenaran lain.
Ia menolak jika warga Gaza harus memilih sisi mana yang boleh mereka perlihatkan. Mereka boleh kelaparan tetapi tetap menginginkan kopi nikmat; boleh berduka tetapi tetap membuka usaha; boleh menanti truk air saat fajar dan duduk di tepi laut saat malam. "Tidak seorang pun seharusnya dipaksa memilih sisi mana dari diri mereka yang boleh mereka tunjukkan kepada kita," pungkasnya.
Artikel Terkait
Tauhid sebagai Fondasi Keadilan Global
Calon Pilot AU Israel Tewas Bunuh Diri di Pangkalan Militer
Rencana Gaza Trump Diuji oleh Penolakan Netanyahu
Netanyahu Menolak Rencana Perdamaian Trump, Kesepakatan Gaza Runtuh