Janji besar tentang penguasaan sumber daya alam kembali mencuat. Pemerintah kini berencana membentuk bursa mineral dan komoditas strategis agar harga komoditas bisa diatur dari dalam negeri. Namun, di tengah gempuran narasi kedaulatan ekonomi, pertanyaan mendasar pun muncul: apa yang sebenarnya rakyat rasakan?
Sebelumnya, publik pernah disuguhkan cerita tentang kepemilikan 51 persen saham Freeport oleh Indonesia. Kisah itu digaungkan sebagai simbol kedaulatan atas tambang emas terbesar di dunia. Tak lama kemudian, Blok Mahakam pun dikembalikan ke Pertamina dan dipresentasikan sebagai tonggak kemandirian energi. Kini, wacana bursa komoditas hadir sebagai babak baru dari serangkaian janji yang kerap terdengar megah.
Namun, di balik setiap pengumuman tersebut, realitas yang dihadapi rakyat tak banyak berubah. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Pajak dan pungutan baru bermunculan, sebagian di antaranya dilegalkan. Lapangan kerja semakin sempit, gelombang PHK terjadi di berbagai sektor, dan daya beli masyarakat justru menurun.
Masyarakat pun mulai alergi mendengar frasa 'demi rakyat'. Selama bertahun-tahun, mereka disuguhi presentasi tentang masa depan yang gemilang hilirisasi, penguasaan SDA, hingga bursa baru. Semua itu selalu berbicara tentang 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan, sementara kebutuhan hidup harus dipenuhi hari ini. Tagihan, cicilan, harga sembako, dan pekerjaan adalah persoalan yang tak bisa ditunda.
Pertanyaan yang mengemuka: jika SDA semakin berdaulat dan negara semakin menguasai sumber daya strategis, mengapa rakyat justru semakin sering diminta berkorban? Dari era pemerintahan sebelumnya hingga sekarang, pola yang sama terus berulang. Rakyat diminta percaya pada janji besar berikutnya tunggu hasil hilirisasi, tunggu manfaat penguasaan SDA, tunggu sistem dan kebijakan baru. Sementara itu, di beberapa daerah, bahkan muncul gerakan yang menginginkan kemerdekaan dari Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan kegagalan politik dalam memberikan hasil nyata. Ketika janji tak kunjung terwujud, solusi yang ditawarkan bukanlah evaluasi, melainkan janji yang lebih besar lagi. Masa depan selalu terdengar indah, sampai rakyat menyadari bahwa mereka telah menunggu terlalu lama.