Siswi Sekolah Rakyat Sulbar Lolos Calon Paskibraka Nasional 2026

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:31 WIB
Siswi Sekolah Rakyat Sulbar Lolos Calon Paskibraka Nasional 2026

Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat, resmi menjadi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mewakili provinsinya. Remaja 16 tahun ini merupakan satu dari 76 pelajar terpilih dari 38 provinsi untuk mengikuti pembinaan di tingkat pusat.

Bagi Sekolah Rakyat, pencapaian ini menjadi sejarah. Ismi adalah siswi pertama dari sekolah tersebut yang berhasil menembus seleksi Paskibraka nasional. Anak ketiga dari pasangan Rahman dan Suburia ini mengaku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.

“Ini baru pertama kalinya saya menjadi Paskibra,” ujarnya malu-malu saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Ismi tumbuh dalam keterbatasan. Ayahnya seorang buruh tani, dan mereka tinggal di rumah semi permanen seluas 74 meter persegi bersama empat saudaranya. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia tidak pernah mengikuti baris-berbaris. Semua berubah ketika ia bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polewali Mandar.

Di sana, ia mengenal baris-berbaris lewat ekstrakurikuler Pramuka. Sekolah juga memberinya bimbingan Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensia Umum, serta pelatihan baris-berbaris secara intensif. Dukungan penuh itu yang membuat Ismi berani bermimpi menjadi Paskibraka, terinspirasi oleh Bianca Alessia Christabella Lantang, pembawa baki Paskibraka Nasional 2025.

Perjalanan seleksi yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sangat ketat. Ismi melewati seleksi berjenjang dari kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional. Setiap tahap mencakup verifikasi administrasi, tes wawasan kebangsaan, tes intelegensia umum, kesamaptaan, baris-berbaris, tes kepribadian, serta minat dan bakat. Di tingkat provinsi, ia juga menjalani psikotes.

Dengan tekun dan disiplin, Ismi berhasil bersaing dengan 119.441 pendaftar. Awalnya ia hanya menargetkan lolos di tingkat provinsi. Namun, hasilnya melebihi ekspektasi: ia lolos hingga tingkat nasional.

Konsekuensinya, Ismi harus menjalani karantina dan latihan terpusat di Jakarta. Ia sempat sedih karena jauh dari orang tua, yang sebelumnya bisa ditemuinya dua minggu sekali di Sekolah Rakyat. Rasa rindu itu justru menjadi penyemangat. “Mama, Papa, sehat-sehat ya di sana, jaga kesehatan, tunggu Ismi pulang,” katanya.

Sejak 14 Juli 2026, Ismi mengikuti Pembinaan dan Pelatihan Calon Paskibraka Tingkat Pusat. Ia mengaku tidak kesulitan beradaptasi karena kebiasaan disiplin di Sekolah Rakyat membantunya. “Bangun tidur, terus mandi, salat. Habis itu olahraga pagi, lanjut latihan sampai jam tujuh, ishoma, latihan lagi sampai jam lima sore, salat Maghrib, makan malam, salat Isya. Kalau ada materi, materi dulu. Kalau enggak ada, langsung istirahat. Mirip di Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Kini, ia menantikan 17 Agustus untuk bertugas di Istana Negara. Ia bertekad memberikan yang terbaik dan membanggakan orang tua, guru, serta teman-temannya. “Untuk teman-teman di luar sana, tetap semangat ya. Jangan putus asa, jangan mudah menyerah,” pesannya.

Wakil Kepala BPIP selaku Pengarah Program Paskibraka, Rima Agristina, mengapresiasi Sekolah Rakyat yang memberi kesempatan setara bagi anak-anak. “Kami mencatat ada 170 siswa Sekolah Rakyat yang mendaftar. Ini apresiasi untuk Kementerian Sosial dan semua pelaksana Sekolah Rakyat karena berhasil memberikan kesempatan kepada adik-adiknya,” ujarnya.

Dari 170 pendaftar, 48 siswa lolos di tingkat kota/kabupaten, dua di tingkat provinsi, dan Ismi menjadi satu-satunya yang menembus tingkat nasional.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.