Jateng Perkuat Ketahanan Pangan lewat Integrasi Pertanian dan Peternakan

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:21 WIB
Jateng Perkuat Ketahanan Pangan lewat Integrasi Pertanian dan Peternakan

Jawa Tengah menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi provinsi ini pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), menjadikannya produsen padi terbesar kedua di Indonesia. Selain itu, subsektor peternakan juga menunjukkan potensi besar dengan menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja dan menghasilkan puluhan ribu ton daging setiap tahun.

Kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra-sentra produksi pangan dan ternak itu dinilai akan berdampak lebih maksimal jika diintegrasikan langsung dengan optimalisasi lahan. Anggota DPRD Jawa Tengah, Setya, mendorong konsep pertanian dan peternakan terpadu sebagai langkah percepatan pengentasan kemiskinan. Gagasan ini diwujudkan melalui dukungan terhadap program percontohan Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis yang berlokasi di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara.

Program tersebut dinilai tepat untuk mengoptimalkan lahan yang selama ini dibiarkan tidak digarap. Setya mengungkapkan, langkah ini menjadi jalan keluar untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

"Alhamdulillah kami dari DPRD bisa membersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah," tegas Setya dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

"Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani. Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan," imbuhnya.

Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri peresmian program Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis pada Senin (10/8).

Setya juga memberi perhatian khusus pada keterlibatan anak muda di sektor pertanian. Di Banjarnegara, pengelolaan kawasan Revola diserahkan kepada para petani muda yang sudah mulai memanfaatkan teknologi pertanian modern. Penggunaan alat bantu seperti pesawat tanpa awak (drone) dan mesin penyiram otomatis terbukti membuat pekerjaan petani menjadi lebih cepat dan hemat tenaga.

"Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa," tambah Setya.

Setya berharap program serupa tidak hanya berhenti di Kabupaten Banjarnegara. Ia mendorong agar pengelolaan lahan kosong menjadi kawasan produktif yang memadukan pertanian dan peternakan ini bisa ditiru serta diterapkan di 35 kabupaten dan kota di seluruh Jawa Tengah.

"Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata," tutup Setya.

Sebagai informasi, program Revola di Desa Susukan dikembangkan di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. Lahan tersebut kini tidak lagi kosong, melainkan ditanami berbagai komoditas bernilai jual seperti kopi, alpukat, padi, dan tanaman hortikultura.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.