Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih banyaknya masyarakat yang harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Bahkan, ia mengaku menerima laporan tentang ibu-ibu yang meninggal saat hendak melahirkan karena perjalanan menuju fasilitas kesehatan mencapai 7 hingga 9 jam.
Dalam pidatonya saat penyampaian Nota Keuangan 2026 di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (14/8), Prabowo menegaskan bahwa rakyat tidak seharusnya menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar. "Rakyat tidak boleh menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Negara harus hadir sedekat mungkin dengan tempat rakyat hidup," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah akan memperkuat fasilitas kesehatan sekaligus menyiapkan terobosan evakuasi medis. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyediaan ambulans udara menggunakan helikopter maupun pesawat kecil.
"Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter, dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit," jelas Prabowo.
Menurut Prabowo, kondisi memprihatinkan tersebut terjadi karena akses jalan dan jembatan yang belum memadai. Akibatnya, ketika kondisi ibu sudah kritis dan membutuhkan pertolongan segera, perjalanan menuju fasilitas kesehatan justru memakan waktu berjam-jam.
"Saya mendapat laporan banyak ibu-ibu yang meninggal karena harus menempuh jalan 7 jam sampai 9 jam pada saat melahirkan," tuturnya. "Pada saat sudah waktunya mau pecah, harus 9 jam karena tidak ada jalan yang baik, karena jembatan tidak bagus. Akhirnya banyak ibu-ibu meninggal di daerah-daerah yang tidak jauh dari ibu kota," tambahnya.
Prabowo menilai pemerintah perlu mencari terobosan inovatif agar persoalan akses kesehatan di wilayah terpencil dapat diatasi. Ia membuka kemungkinan tenaga medis diterbangkan langsung ke lokasi masyarakat yang membutuhkan penanganan darurat. "Kalau perlu, dokter yang terbang ke tempat rakyat sakit keras atau menghadapi bencana," tandasnya.