Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia membuka Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8). Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa proses kaderisasi partai harus dijalankan dengan serius dan ketat, bahkan tidak segan untuk tidak meluluskan peserta yang dianggap belum memenuhi standar.
Menurut Bahlil, kader Partai Golkar memiliki karakter sebagai teknokrat yang selalu mengutamakan kepentingan negara dalam setiap pengambilan keputusan. Karena itu, kaderisasi tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. "Ciri karakter daripada Partai Golkar, kader Partai Golkar itu kan teknokrat. Dan ini ciri kita. Dan kalau kita bicara tentang teknokrat, itu selalu berpikir tentang kepentingan negara duluan. Kitanya itu dampaknya, multiplier effect-nya," ujarnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang melewati jenjang kaderisasi dari tingkat provinsi hingga nasional. "Saya minta untuk semua peserta harus ketat, Pak Sekjen. Bila perlu kalau tidak lulus jangan dikasih lulus. Kenapa? Saya jujur ya, saya bisa seperti sekarang karena ikut Diklatda. Diklatda Partai Golkar di tingkat provinsi. Habis itu ikut pelatihan di tingkat nasional, by process. Jadi nggak ada sesuatu yang instan, nggak ada," lanjutnya.
Bahlil juga menegaskan bahwa seluruh peserta harus diperlakukan sama, termasuk anggota DPR RI yang mengikuti ToT. Status sebagai legislatif tidak boleh menjadi alasan untuk mendapat perlakuan khusus. "Jadi saya minta kepada anggota DPR, sekalipun mereka anggota DPR, perlakukan mereka sama dengan yang lain," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil menyoroti dinamika di organisasi sayap Partai Golkar, khususnya Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Golkar. "Organisasi-organisasi sayap pemuda kayak AMPI ini jangan konflik terus. Apa itu? Satu kepengurusan empat kali ganti Sekjen. Apa itu lulusan? Enggak pernah belajar kayak begitu di AMPI. Ilmu apa ini? Mungkin gara-gara pengkaderannya juga mulai nggak jelas. Enggak, saya serius. Enggak ada itu kerja kayak begitu," katanya.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan internal partai. Perdebatan mengenai hal yang tidak substansial hanya akan menghambat konsolidasi organisasi. "Jadi nggak akan mungkin kita bisa mencapai tujuan secara maksimal kalau di internal kita nggak kompak. Ngapain pendebat hal-hal yang tidak substantif? Itu malah justru memperlambat laju percepatan kita melakukan konsolidasi organisasi," ujarnya.
Membangun Standar Pendidikan Politik
Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Thohari menjelaskan, ToT ini merupakan implementasi amanat Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar yang menempatkan kaderisasi sebagai fondasi utama pembangunan partai. "Kegiatan pelatihan pelatih Akademi Partai Golkar diselenggarakan sebagai implementasi amanat Musyawarah Nasional Partai Golkar yang menegaskan pentingnya penguatan sistem kaderisasi sebagai fondasi utama pembangunan partai," kata Hajriyanto.
Akademi Partai Golkar, lanjutnya, hadir sebagai instrumen strategis untuk membangun standar pendidikan politik yang berkualitas. "Melalui pelatihan pelatih ini, Partai Golkar mempersiapkan para instruktur yang kompeten agar mampu menjadi penggerak kaderisasi di seluruh tingkat organisasi, sekaligus memastikan terbangunnya keseragaman materi, metode pembelajaran, dan nilai-nilai kepartaian dalam setiap proses pendidikan kader," jelasnya.
ToT Akademi Partai Golkar digelar pada 3-8 Agustus 2026 di DPP Partai Golkar. Sebanyak 81 peserta mengikuti pelatihan yang berasal dari anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, unsur DPP, organisasi pendiri dan didirikan, serta kader yang dipersiapkan menjadi instruktur Akademi Partai Golkar.
Selama pelatihan, peserta menerima berbagai materi, mulai dari identitas kader Golkar, doktrin karya kekaryaan, kepemimpinan, kebijakan publik, komunikasi politik, teknik persidangan, penyusunan rencana pembelajaran, hingga simulasi mengajar. Materi tersebut dirancang untuk membentuk pelatih kaderisasi yang memiliki delapan kompetensi utama: ideologis, kepemimpinan, manajerial, teknokratis, sosiokultural, elektoral, digital dan media, serta geopolitik.
Hajriyanto mengungkapkan, penyelenggaraan ToT ini menjadi momentum penting karena dalam satu dekade terakhir partai belum menyelenggarakan kaderisasi secara sistematis. "Perlu menjadi catatan bahwa berdasarkan berbagai informasi, dalam 10 tahun terakhir DPP Partai Golkar tidak menyelenggarakan kaderisasi secara sistematis dan struktur sebagaimana yang kita mulai adakan pada hari ini. Semoga ilmu, pengalaman, dan jejaring yang dibangun selama kegiatan ini menjadi bekal dalam melahirkan kader-kader Partai Golkar yang semakin berkualitas, militan, dan mampu menjawab tantangan zaman," ujarnya.
Artikel Terkait
Sekjen Golkar Minta Kader Terpilih Tak Ganti Nomor HP
Dicolek Ajudan saat Pidato, Bahlil Kelakar Konsentrasi Buyar karena Dipanggil Prabowo
Pidato Bahlil Disela Ajudan, Ternyata Dipanggil Prabowo
HBA Agustus 2026: Batu Bara Kalori Tinggi Turun, Kalori Sedang dan Rendah Naik