Dosen Universitas Andalas, Feri Amsari, mengaku selalu risih jika disebut sahabat Mahfud MD. Baginya, relasi keduanya lebih tepat disebut guru dan murid. Ia mengagumi karakter Mahfud yang tetap mau mendengarkan kritik, bahkan dari orang yang berseberangan dengannya.
"Satu yang membuat kami merasa terhormat dan senang dengan Prof Mahfud, Prof Mahfud walau dia tidak setuju dengan kita, dia itu tidak pernah tidak mendengar pendapat kita, meskipun itu kritik," kata Feri dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (01/08/2026).
Feri menuturkan beberapa kali dirinya dan koleganya menyampaikan kritik keras kepada Mahfud, termasuk saat menolak bergabung dengan timnya ketika terjadi pelanggaran HAM di Riau. Namun, Mahfud tidak pernah marah atau berkomentar negatif.
"Itu terasa, kita sebagai murid sadar diri, kita ini mungkin benar, tapi rasanya kok tidak santun, tapi harus kita sampaikan dan itu beberapa kali. Bahkan, ketika beliau jadi Menkopolhukam, kami bertiga (bersama Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti) kompak tidak datang ketika Prof minta jadi tim itu karena ada peristiwa di Riau, kami tidak mau menyampaikan kepada Presiden karena ada pelanggaran HAM yang sedang terjadi, beliau tidak komen, tidak marah, sampai kami bingung," ujarnya.
Setelah kejadian itu, sambutan Mahfud tetap hangat. Setiap kali Feri datang ke kantornya untuk berdiskusi, ia selalu disambut dengan Nasi Madura, kuliner khas. Sikap santai itu juga terlihat ketika mereka bertiga memutuskan membuat film Dirty Vote.
"Itu yang mungkin timbul rasa segan, kagum, senang. Jadi, apapun orang mengatakan, kan pemilu kemarin tuduhan ke kami semua orang dekat Prof Mahfud, paling kasihan Mas Dandhy (Laksono). Kalau saya dituduh PKS, Bang Uceng PDIP, Mbak Bibip Nasdem, Mas Dandhy PKI, sudah partai lama, terlarang, kami minimal masih ada. Itulah, kami berjumpa dengan orang-orang seperti beliau, jadi pembelajaran dan menyenangkan," kata Feri.
Feri bersyukur relasi itu terjaga hingga kini. Ia menyebut Mahfud sering menjadi penengah ketika mereka yang disebut 'murid-murid nakal' berbeda pandangan. "Kalau kami ribut pun sepertinya mengadunya ke Prof. Saya tahu Prof, yang senior-senior kalau sedang marah sama saya, pasti nyinggung-nyinggung ke Prof Mahfud, ini keterlaluan sih anak-anak. Tapi, Prof Mahfud juga tidak menunjukkan keberpihakan, itu yang membuat menyenangkan dan Prof Mahfud menikmatinya selama ini," ujarnya.
Dalam konteks akademis, Feri mengatakan semua mahasiswa politik-hukum berutang ilmu pada Mahfud, terutama melalui karyanya yang legendaris. Salah satu analogi yang selalu diingat adalah soal rel dan lokomotif.
"Ada analogi yang kami suka dan selalu ingat soal rel dan lokomotif, harusnya hukum itu jadi rel, sementara politik itu lokomotif. Jadi, politik itu diarahkan oleh rel dan jangan sebaliknya, jangan politik rel, hukum yang kemudian diarahkan politik. Itu analogi yang menempel di kepala khas Prof Mahfud untuk menyederhanakan hal-hal yang rumit, karena waktu itu pasti lah beliau belum kenal kami," kata Feri.
Feri juga mengagumi kesederhanaan Mahfud, yang terlihat dari gaya berpakaian dan sikapnya. Ia mencontohkan saat Mahfud menjadi pembicara di acara Gubernur Sumatera Barat ketika sudah menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Saat itu, air bocor menetes di tempat duduknya, namun ia santai saja pindah tempat tanpa marah.
"Memang santai betul. Saya tahu beberapa Ketua MK, hakim MK, selalu protokoler, wuing-wuing, tetot-tetot (voorijder) itu banyak sekali, Prof Mahfud itu mau ada tetot-tetot, tidak ada tetot-tetot, santai saja. Padahal, sudah jadi Ketua MK," ujar Feri.
Artikel Terkait
Debat Kabinet Bayangan di Kompas TV, Staf Ahli BUMN Dikritik karena Sikap dan Cara Berbicara
Mahfud MD: Saya Babat Permainan Kriminalisasi Saat Jadi Ketua MK
Mahfud MD: Pesantren Garda Terdepan Selamatkan Moral Bangsa
Mahfud MD Nilai Pembentukan URI oleh Prabowo Langgar Prosedur